Bencana datang silih berganti. Tapi, mengapa mata hati kita untuk
introspeksi sepertinya tertutup, bahkan sebagian di antara kita tetap
membusungkan dada lantaran bencana itu terjadi karena fenomena alam
semata? Kita selalu mengedepankan logika, teori bahkan ramalan. Padahal
jika Allah berkehendak, semuanya bisa dijungkar balikan. Anehnya, yang
lebih menyedihkan lagi adalah ritual-ritual yg bertentangan dengan Islam
bertebaran di mana-mana bersamaan dengan datangnya bencana. Orang minta
petunjuk melalui mimpi, yg tak jarang menggunakan media sesajen,
kemenyan dan benda-benda yg dianggap kramat.
Kita seolah lupa atau sengaja melupakan diri bahwa
kita sebenarnya mempunyai Tuhan yg jelas lebih berkuasa atas segalanya.
Betapa sembrononya kita, di tengah rangkaian bencana yg menelan begitu
banyak korban, justru bersikap seolah menafikan yg kuasa. Kita seolah
tak punya agama.
Kita terlalu angkuh menganggap semua bukan sentilan Tuhan yg
sengaja ditampakkan dalam wujud bencana agar manusia kembali ingat
kepadaNya, agar kita kembali menyadari atas segala dosa yg diperbuat
seyogyanya mensyukuri atas segala nikmat yg telah diberikan- Nya. Kita
lalai bahwa manusia diciptakan sebenarnya untuk senantiasa
mengaktualisasikan apa-apa yg menjadi kewajibannya, bukan malah
menentangNya,"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembahKu"(QS. Adz-Dzariyat:56)
Rasanya sudah cukup kita bercermin bagaimana kaum 'Ad,
Tsamud, Nuh kaum-kaum terdahulu dihancurkan dan dimusnahkan. Apa yg
menjadikan mereka itu hancur tidak lain karena keserakahan, keangkuhan,
kebodohan, bahkan kekerasan hati mereka yg tak percaya akan
kekuasaanNya. Seandainya mereka tidak melampaui batas, barangkali bala'
yg sedemikian rupa tidak akan turun.
Meski beda masa antara kaum terdahulu dengan sekarang, namun
bencana tersebut hampir persis terjadi di negri yg katanya bergelimang
dengan kekayaan alam. Di negri ini, moral bangsa sudah sedemikian parah.
Para elite yg semestinya bisa dijadikan teladan malah berlomba menumpuk
harta meski dengan mengkorupsi kepentingan rakyat, perilaku masyarakat
juga kian mengarah kepada dekadensi moral akibat hantaman globalisasi yg
membuka lebar-lebar kran permisifisme. Angka kriminalisme menunjukan
grafik yg fantastis; mulai dari perampokan, premanisme hingga pembunuhan
dengan berbagai modus operandi. Belum lagi kemaksiatan yg merajalela
seperti: prostitusi yg terkesan dilegalkan dengan adanya lokalisasi
walaupun dalihnya thdak ada lapangan kerja, pelecehan seksual, kekerasan
rumah tangga, perempuan serta anakpun terus kita pelototi dengan mata
telanjang.
Benar-benar komplit "suguhan" di negeri ini. Tanpa
bermaksud menafikan logika, kalau kita mengingat begitu perkasanya Sang
Pencipta, sebenarnya terjadinya itu tak terlepas dari carut marutnya
moral yg melanda negeri ini. Rasulullah SAW. Pernah bersabda,"Bila
perbuatan-perbuatan maksiat ditengah umatku telah nyata, maka Allah akan
menimpakan adzabNya kepada mereka secara merata" (HR. Ahmad).
Dengan kondisi seperti ini, bagaimana mungkin
mengharapkan suatu keberkahan seperti yg kita idamkan,"baldatun
thayyibatun warabbun ghafur"(negeri yg baik dan dirahmati Allah)
sementara kita pelit sekali mengungkapkan rasa syukur. Sebaliknya, kita
menciptakan situasi yg mengundang murka Allah. Allah SWT. berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari(nikmatku),sesungguhnya adzabku
sangat pedih"(QS.Ibrahim:7)
Karena itu, bila kita senantiasa mengembalikan bahwa
semua kejadian alam tersebut merupakan skenario Allah, pandai bersyukur
serta memperbaiki mental kita yg compang camping, maka kita pastinya
akan terhindar dari adzab Allah yg lebih dahsyat. Sebab tak bisa
dipungkiri, ada korelasi antara bencana, moral bangsa dan keberkahan.
LOKASI PESAWAT JATUH. Foto
udara lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang diambil
menggunakan Helikopter Super Puma TNI AU dengan pilot Mayor Pnb Levi
dari Lanud Atang Sanjaya, Bogor di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat,
Kamis (10/5). Tim Search and Rescue (SAR) udara dari Lanud Atang Sanjaya
telah menemukan lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 pada pukul
9.20 WIB, Kamis (10/5) di pinggir tebing kawasan Gunung Salak, Cidahu,
Sukabumi, Jawa Barat. FOTO ANTARA/TNI AU/HO/wsj/Koz/mes/12. ANTARAFOTO
Team Evakuasi Pesawat Sukhoi SARNAS TNI di Lokasi Kecelakaan Gunung Salak Bogor.
Dalam perkembangannya sampai
sekarang pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon telah berusia lebih dari
200 tahun. Para ulama pengasuh pesantren telah banyak mendirikan lembaga
pendidikan, baik yang menggunakan sistem pendidikan pesantren maupun yang
menggunakan sistem pendidikan formal seperti; Madrasah Diniyah, Ibtida’iyah,
Tsanawiyah, dan Aliyah di bawah binaaan Departemen Agama RI, maupun sekolah
umum tingkat dasar, SMP, dan SMA di bawah binaan Departemen Pendidikan Nasional
.
Pada tahun 1960 di Babakan Ciwaringin ada lima buah Madrasah
Menggunakan Kurikulum Pesantren
Madrasah Salafiyah (Msy) Diniyah Takmiliyah Awaliyah
Madrasah Salafiyah (Msy) Diniyah Takmiliyah Ulya
Menggunakan Kurikulum Pesantren ditambah Kurikulum Departemen Agama
Madrasah Hikmatus Salafiyah(MHS) Tingkat Ibtida’iyah
Madrasah Hikmatus Salafiyah MHS) Tingkat Tsanawiyah
Atas prakarsa Ketua Yayasan Kesejahtraan Pendidikan Pesantren (YKPP)
KH.Moh.Haririe dan KH. Anwar Fathoni, pada tahun 1968 didirikan MHS tingkat
Aliyah, dan kurikulumnya disuaikan dengan Kurikulum Departemen Agama RI.
Perkembangan selanjutnya MSS Takmiliyah Wustho dinegerikan menjadi Madrasah
Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan MSS Takmiliyah Ulya menjadi Sekolah Persiapan IAIN
(SPIAIN) yang lulusannya khusus untuk melanjutkan pendidikan ke IAIN.
Memperhatikan perkembangan sistem pendidikan nasional tahun 1970 dan
perkembangan sistem pendidikan pesantren serta kebutuhan masyarakat, dan untuk
menampung lulusan MTs dan SMP yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi/IAIN,
maka YKPP dengan prakarsa KH.Moh.Haririe Sanusi, KH.Anwar Fathoni, KH.Syarif
Hud Yahya, KH. Yunus Amin, dan kawan-kawan mengadakan musyawarah bersama para
ulama sesepuh pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin yang menghasilkan:
Mengusulkan agar MHS tingkat Aliyah dinegerikan
Pesantren Miftahul Muta’allimin Babakan Ciwaringin
Cirebon mengajukan usul penegerian MHS tingkat Aliyah dengan (surat
No.121/M.A.IX/69 tanggal 12- Oktober 1969)
YKPP sebagai pemeran utama dalam usaha persiapan
tersebut memperkuat usulannya dengan surat No.217/J-A/I/70 tanggal 15
Januari 1970 hingga mendapatkan rekomendasi dari Menteri Agama dengan
surat No. 202/D.I/70 tanggal 25 Mei 1970.
Dari usaha keras di atas, terbitlah Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 73
tahun 1970 tanggal 22 Mei 1970 perihal Penegerian Madrasah Aliyah Alhikamus
Salafiyah Pesantren Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon menjadi Madrasah Aliyah
Agama Islam Negeri (MAAIN) Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon Prop. Jawa Barat.
Dan sejak tahun 1978 sesuai dengan SK Menteri Agama RI No.17 tahun 1978 tanggal
16 Maret 1978 MAAIN tersebut mengalami penyederhanaan bentuk dan struktur
organisasi persekolahan dan tata kerja Depag RI, MAAIN tersebut berganti nama
menjadi MAN Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon seiring dengan berlakunya kurikulum
Depag RI tahun 1975.
Dalam upaya meningkatkan mutu Madrasah Aliyah, maka melalui SK Dirjen Binbaga
Islam Departemen Agama RI Nomor E.IV/PP.00.6/KEP/17.A/98 tanggal 20 Februari
1998 menyatakan bahwa MAN Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon adalah salah satu MAN
Model dari 35 MAN Model seluruh Indonesia yang dilengkapi dengan sarana PSBB
(Pusat Sumber Belajar Bersama), sehingga diharapkan dapat menjadi MAN
percontohan khususnya di wilayah III Cirebon.
Bidang Keuangan (Anggaran Pembiayaan Madrasah)
Anggaran biaya pengelolaan kegiatan Madrasah selama ini bersumber dari :
Dana pemerintah dalam bentuk DIPA untuk proyek
sarana dan untuk biaya rutin.
Dana bantuan/infaq pendidikan dari orang tua siswa
melalui Komite Madrasah.
Bantuan Luar negri
Ketiga sumber dana tersebut masih kurang memadai apabila dibandingkan dengan
kebutuhan biaya pengelolaan kegiatan madrasah secara optimal dalam upaya
peningkatan kualitas secara keseluruhan.
Kondisi Eksternal
Kondisi eksternal di lingkungan MAN Babakan Ciwaringin Cirebon meliputi kondisi
lingkungan dan kontribusi masyarakat. Sebagaimana yang telah diuraikan dalam
sejarah singkat MAN Babakan Ciwaringin, kondisi lingkungan MAN Babakan
Ciwaringin sangat kondusif untuk belajar, karena berada di lingkungan komplek
pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Sedangkan partisipasi
masyarakat terhadap pengelolaan Madrasah baru terbatas pada bantuan dana orang
tua murid lewat Komite Madrasah.
Kekuatan Faktor Historis Kelembagaan
Dalam melaksanakan strategi pengembangan MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon,
perlu dilakukan analisis situasi, baik yang dipandang menguntungkan, atau
menjadi kekuatan, maupun kelemahan, tantangan, dan peluang, serta
langkah-langkah strategis yang dilakukan untuk lima tahun ke depan.
Dalam perkembangannya sampai sekarang, MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon
memiliki kemajuan yang cukup pesat, baik sarana / prasarananya maupun input dan
outputnya yang tersebar di seluruh nusantara. Salah satu faktornya adalah
karena secara historis MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon lahir dari pondok
pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon yang telah berusia lebih dari 200 tahun.
Berkat usaha keras Para ulama dan pengasuh pesantren telah banyak mendirikan
lembaga pendidikan baik yang menggunakan sistem pendidikan pesantren maupun
yang menggunakan sistem pendidikan formal seperti MAN, sehingga dukungan secara
penuh dari lingkungan pesantren dan masyarakat di sekitarnnya sangat baik
terhadap pengelolaan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri tersebut.
Sebagai lembaga pendidikan formal negeri di bawah naungan Departemen Agama, MAN
Model Babakan Ciwaringin Cirebon memmliki landasan yuridis sebagai acuan dalam
penyelenggaraan pendidikannya, antara lain:
Keputusan Mentri Agama RI No.73 tahun 1970 tanggal 22
Mei 1970 perihal Penegerian Madrasah Aliyah Alhikamus Salafiyah Pesantren
Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon menjadi Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri
(MAAIN) Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon prop. Jawa Barat.
SK Menteri Agama RI No.17 tahun 1978 tanggal 16 Maret
1978 yang berkenaan dengan penyederhanaan bentuk dan struktur
organisasi persekolahan dan tata kerja Depag RI, MAAIN tersebut berganti
nama menjadi MAN Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon seiring dengan
berlakunya kurikulum Depag RI tahun 1975.
Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
Peraturan Pemerintah RI No. 39 tahun 1992 tentang peran
serta masyarakat dalam Pendidikan nasional.
Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI
No.0489/V/1992 tentang Madrasah Aliyah sebagai sekolah Umum yang
bercirikhas Agama Islam.
Keputusan Mentri Agama RI Nomor 370 tahun 1993 tentang
Madrasah Aliyah dan Nomor 373 tentang Kurikulum MA.
SK Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI Nomor
E.IV/PP.00.6/KEP/17.A/98 tanggal 20 Februari 1998 menyatakan bahwa MAN
Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon adalah salah satu MAN Model dari 35 MAN
Model seluruh Indonesia yang dilengkapi dengan sarana PSBB (Pusat Sumber
Belajar Bersama), sehingga diharapkan dapat menjadi MAN percontohan
khususnya di wilayah III Cirebon.
Letak Geografis
MAN Babakan Ciwaringin Cirebon yang berada di komplek pesantren babakan
Ciwaringin Cirebon memilik keunggulan secara geografis. Dengan letaknya yang
cukup jauh dari kota Cirebon, tepatnya 25 Km sebelah barat kota Cirebon,
jauh dari keramaian kota, sehingga iklimnya cukup kondusif dan sangat cocok
untuk belajar secara tekun dan baik, serta mudah dijangkau oleh kendaraan
umum karena jaraknya hanya 300 meter dari jalan raya Cirebon - Bandung.
Sumber Daya Manusia di MAN Babakan Ciwaringin Cirebon merupakan unsur pokok
dalam pengembangan strategis di lembaga pendidikan formal tersebut. Secara umum
keadaan karyawan baik tetap maupun tidak tetap di MAN Babakan Ciwaringin
Cirebon, dapat digambarkan sebagai berikut;
Secara kuantitatif tenaga edukatif dan administratif
cukup memadai, namun tenaga yang tetap (pegawai negeri) masih perlu
penambahan terutama untuk guru-guru MIPA yang kompeten dan menguasai
Bahasa Inggris aktif serta tenaga administrtif yang menguasai teknologi
informasi. Secara kualitatif tenaga edukatif cukup memadai, karena
rata-rata berpendidikan S.1 dan hanya satu orang guru berpendidikan D.3
sedang menempuh pendidikan S.1.
Tenaga edukatif berpendidikan S.2 berjumlah 7 orang,
terdiri dari 3 orang Magister Pendidikan (M.Pd.) dan 3 orang Magister
Agama (M.Ag), dan 1 orang Magister Manajemen Pendidikan (M.M.Pd.).
Mereka adalah sebagai guru Bina/guru Master yang
senantiasa siap diberdayakan dalam pengembangan Madrasah secara optimal di
masa-masa mendatang.
Tenaga administratif yang berpendidikan S.1
berjumlah 3 orang, yang lainnya D.3 dan SLTA, SLTP, dan SD. Hal ini juga
dapat diberdayakan menjadi modal penggerak dalam penataan manajemen Tata
Usaha yang profesional.
VISI
Terwujudnya individu yang bermartabat secara intelektual, emosional, dan
spiritual.
MISI
1. Menyelenggarakan pendidikan secara professional
2. Mengembangkan potensi akademik dan nonakademik
3. Mewujudkan keteladanan yang berakhlakul karimah
4. Mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan civitas madrasah
SERBA SERBI MANCHY MODEL AKTIFITIES
Marawis MMC ManChy
Sertijab Teatere 'Bianglala' Manchy Model
Sertijab Radio Broadcaster Manchy Model
Sertijab Sipala Manchy
Sertijab PMR Wira Manchy Model
Sertijab MBD Manchy Model
Anak2 Buletin Kreasi Manchy Model lagi Nampang
Sehabis mengikuti Lomba Mading
K.H. Hasanuddin adalah tokoh pendiri
awal pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, sekitar tahun 1131 H/
1709 M. Pendirian pesantren ini merupakan bagian proses penyebaran dan
penguatan Agama Islam di Cirebon Jawa Barat. Kyai Jatira adalah gelar
beliau saat memimpin aksi protes terhadap rencana pembuatan jalan lintas
antara Cirebon-Sumedang-Tanah Ukur(Bandung), yang diadakan pemerintah
Kolonial Belanda. Beliau mengadakan perlawanan bersama para santri
dengan mencabuti patok-patok penanda jalan yg akan dibuat. Hal ini membuat
Belanda dan pihak keresidenan Cirebon gusar. Belum lagi pemberontakan
Tubagus Serit dan Tubagus Rangin usai, kini muncul perlawanan lain
timbul. Pihak kesultanan bungkam. Dilematis. Karena perlawanan-perlawanan yang
terjadi di sekitar Cirebon seperti juga yang dipimpin oleh Kyai Ardi Sela(
Buntet), adalah tokoh-tokoh keluarga Keraton yang menyingkir dari keraton
karena tidak senang atas kedekatan keraton dengan kompeni Belanda. Masuknya
budaya asing seperti, mabuk-mabukan sambil pesta dansa, perjudian, membuat kalangan
keraton yg masih kuat memegang ajaran agama Islamnya berang. Akhirnya
banyak yang dari keluarga keraton keluar dari istana. Sebagian menjalani
hidup sebagai orang biasa. Sebagian lagi menjadi tokoh penyebar Agama
Islam meneruskan jejak leluhurnya yaitu Syekh Syarif Hidayatullah dg
mendirikan padepokan atau pasantrian. Merekapun tak segan melepas gelar
keningratannya(hal ini mungkin bs mnjadi alasan kenapa beberapa silsilah
nasab keluarga yg hilang tidak tercatat- atau memang sengaja
disembunyikan oleh ahli silsilah demi keselamatan tokoh dg generasinya).
Sikap seperti itu sebagai kesiapan mereka dalam menyebarkan Ajaran Rasul yang
dibina Sunan Gunung Jati yang semakin luntur akibat pengaruh budaya yang
di bawa penjajah. Dengan adanya campur tangan dan tekanan Kompeni,
Kebijakan keraton tidak lagt berpihak pada sisi kemanusian, mengayomi rakyat.
Tapi sudah cenderung ke aspek material, memanfaatkan potensi rakyat untuk
mengeruk keuntungan bagi mereka. Rakyat semakin terpuruk dengan adanya
kenaikan pajak, monopoli dagang dan program tanam paksa. Pihak keraton
terbagi dua antara yang membela rakyat dengan yang berpihak ke kompeni. Kelompok
yang memihak rakyat banyak yang mengadakan perlawanan langsung, bergabung
dengan mereka yang lebih dulu hengkang dari keraton. Sehingga perlawanan demi
perlawanan tak bisa dielakan. Misalnya, Penutupan Taman Sunyaragi;
sebuah taman sekaligus tempat menempa diri, bertawajuh para tokoh
Keraton, yang di duga dijadikan tempat melatih ksatria untuk melawan
belanda dan Pecahnya perang antara Santri dan belanda yang terjadi di
Kedongdong (Perang Santri). Perjuangan lain ditempuh dengan mendirikan
lembaga pendidikan pesantren; untuk mendidik kader penerus perjuangan.
Salah satu tokoh yg mengambil pola tersebut yaitu Kyai Hasanuddin atau Kyai
Jatira( yg dikenal juga dengan sebutan Embah Qobul). Beliau Putra dari Syekh
Abdul Latif (Plumbon, Cirebon), yang dari garis ayah bersambung ke Syekh
Faqih Ibrohim bin Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan, Tasikmalaya).
PONDOK PESANTREN PERTAMA BABAKAN CIWARINGIN
Pondok
Pesantren Babakan Utara, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin yang
didirikan oleh KH Amin Sepuh dan saat ini diasuh oleh KH Afif Zuhri
Amin. Ini pesantren pertama di Babakan Ciwaringin. Pondok Pesantren
Roudlotut Tholibin Babakan Ciwaringin Cirebon. Berdiri pada tahun 1856 M, sebagai penerus Pesantren Kyai Jatira(K.H. Hasanuddin). K.H. Muhammad Amin
Sepuh(1906-1972 M), adalah generasi ke-6 sejak berdirinya pesantren ini.
Beliau dari pihak ayah masih keturunan dari kanjeng sunan Syekh Syarif
Hidayatulloh.dan dari Ibu bersambung ke Sunan Giri.
"Usahlah menangis, berikanlah aku satu senyum saja...lupakanlah
semua problema yang ada berikanlah aku satu senyum saja..." Lirik
lagu Dewa19 memenuhi ruang kerja Bejo di kontrakannya. Sementara Bejo terlihat
santai dan asyik membaca sebuah buku tentang 'Cinta' tulisan penulis ternama
Chalil Gibran. Sampai kemudian HP bututnya menyapa keras pengatkan telinga,
"Halo Assalamu'alaikum, A' maafin Dede ya kalo
kemarin bikin hati A'a sakit, Dede nyesel?". Kata suara di seberang sana
yang sudah tidak asing lagi di telinga Bejo. "Dede kenapa mesti minta
ma'af, Dede gak punya salah kok...dan seandainya punya salahpun udah A'a maafin
kok. Justru A'a yang seharusnya minta ma'af sama Dede. Mungkin A'a terlalu
ngoyo kali ya buru-buru bilang suka ke Dede, tapi mendinng gitu daripada di
tahan-tahan terus nanti jadi penyakit hati mendingankan terus terang,
jujur...masalah nyangkut nnggaknya perasaan itukan terserah yanng punya
hati." "A'aaa ma'afin Dede, Dede juga sayang A'a, Dede nyesel..
banget ma'afin Dede ya Aaa?". Katanya merajuk manja. "Aku jadi
bingung harus berapa kali sih aku jelasin ke kamu De... De udahlah yang sudah-sudah
emang senyata diri aku begini ini adanya... ibarat orang pinter bilang sih
performa A'a kaya gini ini, banyak kekurangannya bila dibandingkan dengan
temen-temen Faceboker Dede yang keren-keren berpangkat lagi, pinter n' tajir
pula.. ibarat sebuah kendaraan mereka-mereka itu merek ternama mahalpula
harganya seperti, Baby Benz, BMW, Hyundai ataupun Mercy.. Sementara A'a apalah
aku dimatamu, udah jelek, miskin, bego lagi ...Ibarat kendaraan, kendaraannya
Bang Doel yang sering ngerepotin Mandra di jalanan kalo lagi di bawa buat narik
penumpang. Itu Opelet... Jadul..". Kata Bejo merendah biar hatinya puas.
Diseberang sana mulai terdengar ketawa kecil. "A'a Dede kangen ..!"
sahutnya sendu. "Samma aku juga kangen, tapi sudahlah mo bagaiman lagi
ibarat nasi sudah menjadi Bubur, sekarang kita tinggal sma-sama ngikhlasin aja
ya?! Wassalamu'alaikum...".
"A'aaa...!!!" Klik Tut-tut-tut, Bejo menutup sambungan teleponnya.
Makasih De buat hari-hari indah dan cinta semunya. Hheemmm, kata Bejo lagi
tegar, Bro!!!.
Pagi itu cerah banget secerah wajah Bejo yang sudah semangat berangkat
beraktivitas.. meski cuaca puncak Bogor pagi itu tetap seperti biasa awan
selalu berkabut, tapi tidak berlaku bagi hati Bejo yang cerah dan hangat
sehangat sambutan orang seisi kantor... di pagi itu. "Suuuurrpraaaiiiissseeee'...!!!"
teriak seisi kantor yang kemudian mereka silih berganti menyalami Bejo,
sedangkan Bejo tetap gak ngerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Selamat Jo, Besok lusa kamu... ja-di berangkat ke Koo-re-aaa...!!!"
Kata pak Boss si Mata Empat itu seakan menjawab berjuta pertanyaan yang
menghantui benaknya. Bejo hanya tersenyum kecil sambil mengucapkan terima kasih
dan kembali kasih, jawab teman-teman sekantornya genit menggoda. "Ohya ini
juga ada bonus untuk tulisan Liputanmu kemaren nyaris sempurna, sampai tau gak
Jo, itu 'Si Ikbal' (Ikatan Banci Lebay) Editor kita sullit
banget nyuntingnya...!! " Kata pak Bos lagi sambil memberikan amplop ke
Bejo. " Bentar pak Bos tapi.. sebenanrnya yang pantas menerima bonus ini
bukan saya tapi Bang Wahid. Soalnya dia hampir seharian tanpa mengenal lelah
berusaha newujudkan tulisan itu. Bang Wahid sini...tolonng terima ini!!"
kata Bejo sambil memberikan amplop itu. "Dia bohong pak Bos, padahal Bejo
yang nulis jadi tulisannya berbobot dan perfektif ...!". "Sssst
sudahlah Cumi, anggep aja ini hari baik Abang Wahid, itu Rizky dari Allah ...
bisa buat beli sepeda Si Panjul anak Abang di Rumah..!" kata Bejo lagi.
"Tapi kalo hanya buat beli sepedanya si Panjul masil lebih banyak nih,
Jo..?!". "Kalo lebih ya gunakan aja untuk nambah-nambah ongkos
persalinan Mbak Susi istri Bang Wahid yang bentar lagi akan melahirkan ... ya
anggap aja uang itu pemberian hadiah dari seseorang hamba Allah untuk sahabat
baiknya..." Kata Bejo ikhlas yang kemudian di sambut peluk hangat Cumi,
sahabatnya."Terima kasih sahabatku, Hmmhukikkk.." kata Cumi terdengar
isak tangis haru. "sudahlah malukan dilihatin ... banyak orang!" Kata
Bejo berusaha menenangkan Cumi. "Temaan-temanku semuanya... sebelum gue
pergi ke Negri Perantauan.... Gue mohooon banget dibukakan pintu ma'af,
kalo-kalo selama jadi teman, partner kerja kalian gue banyak khilaf dan alfa,
banyak nyusahin dan ngerepotin kalian semua, maafkan gue ya... dan..pasti,
pas-ti... pas-ti...nanti gue akan merindukan kalian semua, pas-ti... pas-ti
itu..!". Kata bejo pamitan dan tak terasa air matanya pun mulai deras
terlihat mengalir di sudut matanya, haru.
"Don't
Cry Donnaat... Kita semua sayang kamu kok...!!"Sahut Cumi haru dan kembali
memeluk erat sahabatnya seakan tak kuasa melepas kepergiannya. "Selamat
jalan Sahabat, kami semua pasti merindukan keceriaan gelak tawa candamu sobat,
dan... kalimat-kalimat hikmahmu yang menyejukan kalbu itu.. Selamat jalan
Sahabatku!" kata Cumi sambil melambaikan tangannya sesekali terlihat
menyeka air matanya yang mulai pula membasahi wajahnya, ketika melepas
kepergian sahabatnya itu, BEJO SASONGKO.
Itulah indahnya sebuah persahabatan sejati yang bisa menghibur kita di saat
dalam keadaan apapun. Tatkala duka ia menjadikannya ladang ibadah bagi kita, menjadi
teman setia ketika kita sedang terjatuh..saling mengingatkan ketika lupa dan
saling memberi tidak hanya ketika kita sedang berbahagia tapi saat dalam
keadaan susahpun seorang sahabat sejati masih mampu memberi kedamaian hati bagi
mereka yang benar-benar masih punya hati dan Cinta. Terima Kasih* Tammat.
Selesai Shalat Maghrib, sekeluarnya dari masjid
Pondok Pesantren Selatan Bacicir. Bejo beranjak dari tempat duduknya dan menuju
pintu keluar Masjid. Ia memasukan sesuatu ke dalam kotak yang persis nongkrong
di samping pintu keluar Masjid yang kemudian disusul Cumi. Lalu terlihat Bejo
sibuk sendiri menyiapkan beberapa lembaran uang ratusan ribu ke dalam
amplop, sementara Cumi melihatnya penuh tanda tanya. "Lah amplop itu buat
apa Bos?". Tanya Cumi-cumi.
"Buat membantu mereka saudara-saudara
Muslim kita yang sedang Fii sabilillahmenegakan
ajaran Nabi Muhammad SAW dan mengagungkan agama Allah SWT di muka bumi ini,
gimana elu mo nitip..?". kata Bejo balik nanya ke Cumi. Sedangkan Cumi
kebingungan.
"Gak usah bingung kaya gitu dong...Shalat yang dilarang nitip
aja pengennya nitip, tapi giliran amaliyah Shadaqahyang
boleh nitip elu malah bingung...".
"Tapi ini jatah buat makan malam
ama beli oleh-oleh." Kata Cumi memelas sambil mengeluarkan beberapa uang
ratusan ribu."Cumi-cumi amaliyah shodaqah
itu berapa saja yang penting hati kita ikhlas.. udah cepet mo nitip
berapa..?".
"Yaa ini semuanya gue ikhlas kok, gue juga pengen deket
sama Tuhan Gue... bukankah menurut tulisan elu, setiap pemberian shadaqah yang
didasari rasa tulus ikhlas akan menjadikannya tolak bala bagi diri kita serta
jangan pula berkhawatiran kalo-kalo uang itu akan hilang, karena Allah SWT
telah berjanji akan membalasnya tidak hanya di akherat tapi di duniapun Allah
akan melipat gandakannya, seperti tujuh benih yang di tanam di lahan yang subur
yang kemudian tiap benihnya menghasilkan sepuluh pohon kebaikan dimana dari
setiap pohonnya juga memilliki sepuluh cabang kebaikan dan berbuah lebat pula (QS.
Al-Baqarah 161-163). apa yang kita keluarkan untuk sedekah.. bukan
begitu pak Ustadz?" Kata Cumi panjang dan lebar menjelaskan sesuatu yang
sudah ia ketahui.
"Udah gue bilang biasa aja jangan panggil gue Ustadz,
gue malu tau..!"Kata Bejo sedikit memberi kode. "Sebenarnya elu malu
sama siapa sih Bos ustsdz, Ups maaf salah..!?" kata Cumi Merasa salah
Ngomong. "Gue malu sama yang punya rumah ini, Baitullah..".
Maksud elu sama Allah..?" tanya Cumi lagi. Bejo mengangguk tersipu malu.
"Tidak hanya merasa malu sama Allah tapi juga malu sama Assatidz di
lingkungan Pondok Pesantren ini..". jawab Bejo masih dengan bahasa
memelas.
" Maksud elu malu ama mereka-mereka itu, kok bisa..?" tanya
Cumi lagi merasa tambah aneh.
"Cumi-cumi, elu nyebut gue yang bukan Ustadz
berani manggil gue dengan sebutan Ustadz, sementara dengan beliau-beliau
yang memang benar-benar Ustadz elu ragu memanggilnya...Padahal kalo elu harus
tau, bila gue harus dibanding-bandingkan ilmu dan amal serta pengorbanannya
demi tetap membuminya ajaran agama Allah SWT itu dengan Beliau-beliau, gue gak
ada apa-apanya. Ibadah dan amaliyah beliau-beliau di dunia Ma'had
Tarbiyyatul Islam berpuluh-puluh tahun di Ponpes ini, insya
Allah tulus tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apapun dan dari siapapun
termasuk dari Pengasuh Pesantren ini sekalipun. Para Assatidz itu semata-mata hanya
mengharap berkah dan Ridha dari Allah SWT saja. Sementara kita, si badan ini...
meski bekerja pontang-panting, menulis dengan niatan demi dakwah sekalipun
dengan sesekali 'menukil'' (Mereferensi)
ayat-ayat Allah SWT juga kita masih mengharapkan bayaran, royalty, bonus dari
pak Bos Si mata empat kita. Seperti kegiatan liputan daerah tadi di
Jogya.. berapa duit yang pak Bos keluarkan untuk kita. Udah begitu, kita
terkadang juga masih belum puas dengan rizky yang Allah berikan. Ambil aja
contoh gampangnya kita sering mendemo perusahaan kalo gaji kita gak di bayar
atau telat di bayar, ataupula ketika kita meminta gaji kita naik.
Sementara beliau-beliau itu gak pernah sekalipun Cumi mendemo Pon-pesnya
menuntut gaji. Padahal bertahun-tahun assatidz-assatidz
itu mengabdi demi Agama Allah." Kata Bejo sambil berusaha menjelaskan
sejelas-jelasnya kepada Cumi. Cumi tambah faham dan merasa kagum dengan
sahabatnya yang satu ini.
"Kang Bejo ama temennya, di minta Abah Yai soan
ke rumah Ajengan..!". kata salah satu Ustadz begitu ramah.
"Oh
ya-iya, terima kasih kang Zaid saya akan segera menemui Abah Yai.. Ayo Bang
Wahid kita kesana.."kata Bejo sambil mengajak Cumi. Langkahnya kemudian
diikuti Cumi dari belakang yang kemudian berjalan beriringan dengan Bejo.
"Apapun yang di kasih dan disajikan Abah Yai kita gak boleh menolaknya
ya..!" Bisik Bejo ke Cumi, ia cuma mengangguk kecil. "Assalamu'alaikum,
Abah..!". "Wa'alikum salam Warrahmatullahi wabarrakatuh, subhanallah
Bejo, ente sehat...?" Sambut Kyai Faqih hangat."Alhamdulillah,
berkat do'a Abah dan Nyai serta dengan kehendakNya pula kami berdua bisa bersilaturrahmi
kesini, ya sekedar mampir... numpang untuk shalat Maghrib.." Jawab Bejo
tak henti-hentinya bersyukur.
"Ngendong
(Menginap) juga gak apa-apa, kamu kan santri Abah juga. Gimana kabar Ayah-Bunda
di rumah sehat, semuanya... ?" kata Kyai sambil bertanya.
"Alhamdullillah,
Abah semuanya sehat-sehat saja.." Jawab Bejo Takdzim sementara Cumi
mengangguk-angguk aja pura-pura ngerti bahasa Jawa hinggil soalnye Bang Wahid
si 'Cumi-cumi' kite ini 100% produk Betawi.
"Kalian berdua udah makan,
hayu kita makan dulu biar ngobrolnya enak..!"ajak Kyai yang khos itu. Kalo
Bahasa Cerbonnya sih, "Cung wis pada mangan durung?"
Udah lazim kalimat itu terlontar dari bibir Kyai yang senantiasa basah dengan Dzikrullah
itu, diucapkannya kepada siapapun, entah itu santri-santrinya ataupun
tamu-tamunya yang lebih muda dari Ajengan yang sedang soan(Berkunjung) di rumahnya.
Akhirnya mereka bertiga asyik dengan obrolannya.
Berbincang-bincang sampai waktu shalat Isyapun datang. Dengan alunan suara
Muadzin Khas pesantren Selatan, Adzan pertanda telah masuk shalat Isya itu
mengalun indah turut menyemarakan suasana pesantren yang terasa benar-benar
terasa religius di malam itu. Ketika beranjak ke Masjid Bejo
sempat menyelipkan Amplop yang tadi sudah disiapkannya di sela-sela balik tikar
yang cukup lebar itu. sambil tengak-tengok takut ada orang yang melihatnya. Hal
ini menambah keanehan dalam diri Cumi, saat ia hendak bertanya Bejo memberi
isyarat agar Cumi tidak banyak komentar.
Setelah menunaikan shalat Isya berjamaah, Bejopun pamitan.
"Abah Yai
terima kasih, jadi ngerepotin Abah Yai sekeluarga...".
"Ah
nggak Jo, isun seneng kalo ada santri yang masih inget sama gubug ini. Apalagi
kamu sudah Abah anggep anak sendiri, jangan sungkan-sungkan kalo hendak kemana
saja lewat Cirebon sempatkanlah mampir di gubug reot abah ini ya Jo? jadi bener
gak mo Ngendong di gubug Abah yang jelek ini...?" Kata Kyai faqih
merendah. sedangkan Bejo dan Cumi hanya menanggapinya dengan bahasa jawa
alakadarnya, "Boten, Abah masih wenten keperluan malih...Insya
Alllah ing waktos liane mengkin pun wenten kesempatan malih Insya Allah kula
mampir lan ngendong teng istanane Ajengan niki..(tidak Abah, masih
ada keperlauan lagi nih, Insya Allah di lain waktu apabila masih di beri
kesempatan umur panjang lagi, Insya Allah saya mampir dan menginap di rumah
megah Kyai ini)".
"Yaa sudahlah, yang sabar ya Jo, bila Allah sudah
berkehendak pastilah segala apa yang kamu hajatkan akan terkabul, kun
fayakuun tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagiNya..termasuk
jodohmu, Abah yakin Allah SWT masih menyeleksi calon istrimu yang terbaik dari
yang terbaik untuk mendampingimu dalam kehidupanmu." Kata Kyai Khos ini
seakan tau apa yang sedang di hajatkan santrinya.
"Amiin, leres Yai
maturnuwun...(Ya Kyai, terima kasih..)" jawab Bejo sambil mencium
tangan halus Ajengannya itu yang mulai terlihat putih kaku, kemudian diikuti
Cumi.
Kendaraan merekapun melesat dari Kompleks Ponpes Bacicir yang telah banyak
mencetak ratusan bahkan ribuan orang-orang hebat di negeri ini. Dalam
perjalanan pulang Cumi masih hanyut dengan kejadian barusan tadi yang
benar-benar menurutnya aneh tapi nyata. "Bos boleh gak gue nanya..?"
kata Cumi berusaha memberanikan diri bertanya.
"Mo nanya apa?" sahut
Bejo.
"Tadi ketika kita mo ke rumah kyai elu sempet bilang, jangan pernah
nolak pemberian apapun dari Kyia maksudnya apa?".
"Maksudnya kita
sebagai tamu juga wajib menghormati pemberian tuan rumah...gitu aja. Gak boleh
malu, Abah Yai malah seneng dan banget suka kalo sesuatu yang dihidangkan kepada
tamunya itu habis... masalahnya lagi Abah Yai gak suka dan gak mau nerima tamu
yang kurang menghormati pemberiannya yang berarti tidak ikut mensyukuri nikmat
rizky dari Allah yang dititipkanNya kepada beliau.." Jawab Bejo.
"Terus kenapa amplop yang elu siapin itu gak elu kasihkan langsung ke Kyai
saja, kok malah diselipin di balik tikar, maksudnya apa..?".Tanya
Cumi lagi masih keheranan.
"Soalnya kalo gue kasihkan langsung ke Beliau,
beliau gak mau menerima, ya karena Ajengan sudah yakin merasa cukup
dengan rizky dan ridha yang ia dapatkan dari Allah SWT aja. itu bagian dari
amalan orang-orang sufi yang sudah ma'rifat
(dekat) dengan Penciptanya. Bisa di bilang,'Al-Insanul Kamiluuna''
sudah tidakUbbudun-yalagi, segala
sesuatunya ia pasrahkan. Ya shalatnya, hidupnya, ketentuan nasib hidup dan
matinya hanya kepada Alllah SWT saja. Malahan beliau menganjurkan kalo ingin
bersyukur berbagi rizky Allah berikan saja kepada mereka suadara-saudara kita
yang nasibnya belum beruntung. kepada fakir miskin, anak-anak yatim dan
orang-orang terlantar...trus yang kedua, manfaatnya juga dapat kita
petik. Bagi kita sendiri untuk menghindari riya' amal dan riya qalbi.
Biar Allah SWT saja yang tahu tidak bagi manusia, itu sesungguhnya
sebaik-baiknya dalam beramal.".
"Lah tadi kita kan sepanjang
obrolan gak pernah sekalipun menyindir niatan Hajat elu yang yang kepingin
merantau ke luar Negeri, trus gak pernah ngomongin masalah cewek, kok pak kyai
langsung tau ya?" tanya Cumi lagi masih diselimuti rasa aneh.
"Itulah
salah satu keutamaan seorang hamba yang sudah ma'rifat dengan khaliknya,
terkadang di luar nalar kita bukan..?". Kata Bejo sambil tersenyum kecil
kepada Cumi sahabatnya, Kini Cumi mannggut-manggut mulai paham atas kejadian
barusan tadi.
"Sekarang kita kemana udah larut malem nih hampir jam 21.00
wib?".tanya Cumi lagi lupa sama keinginannya untuk dapat bersilaturrahmi
ke rumah orang tua Bejo.
"Lah kemaren hari elu minta mo kemana
dulu..?".
"Ohya gue hampir lupa, Astagfirullah al adziim
..Sampai lupa nih saking keasyikan ngedenger penjelasan elu tadi. Oke deh
Umiii, Wahid dataaaang...!!" teriaknya kegirangan dan Bejo hanya
senyum-senyum aja melihat sahabatnya bahagia lepas.
Sesampainya di kampung halaman Bejo, tepatnya di dalam gubug orang tua
Bejo, setelah bincang-bincang sejenak Bejo langsung beranjak ketempat
peraduan. Sedangkan Cumi terlihat masih asyik bercengkerama dengan kedua orang
tua Bejo. Menceritakan apa yang sedang dialami Bejo saat ini. Kedua orang tua
Bejo terlihat matanya berkaca-kaca mendengar cerita Cumi tentang anaknya,
Bejo.
"Yaa Allah jika keinginan putra hamba itu semata-mata benar karenaMu,
ketentuan dari kuasa dan keridhaanMu..siapapun gadis pilihan putra hamba, hamba
terima lahir bathin sebagai menantu hamba, yaa Allah kuttitipkan pula putra
hamba, tuntun ia untuk selalu dekat denganMu, ya Rabb..terima kasih untuk
segala karuniaMu.. Amiiin." Do'anya meluncur dari bibir seorang Bunda yang
senantiasa berharap putranya akan menjadi yang terbaik.
Akhirnya Selesai makan siang Bejo pamitan kepada kedua oranng tuanya.
"Nyak-Beh, Bejo pamitan nih, Bejo mo balik ke Bogor..... Do'ain Bejo ya
agar Bejo diberi kemudahan oleh Gusti Allah di dalam setiap urusan Bejo.."
.
"Ya Jo, Mak ama Babeh kamu gak akan bosan untuk senantiasa mendo'akanmu
Jo, yang penting Mak minta shalat lima waktu jangan di tinggal ya.. karena
ibarat badan itu adalaah rohnya untuk dapat hidup tenang dijalannya...".
Kata Ibunya Bejo berpesan.
" Ya Mak, pesan Emak akan Bejo jaga dan takkan
ragu untuk melaksanakannya.." Jawab Bejo takdzim. "Ohya Babeh ama
Emak gak bisa ngasih bekal apa-apa...hanya sekedar segudang Do'a dan... ini ada
sedikit buah mangga, nangka dan Jambu air, lumayanlah buat oleh-oleh, meskipun
asli hasil pekarangan sendiri rasanya tidak akan kalah dengan buah-buahan dari
Taman Sari Bogor sana loh, Hid..!" kata ayah Bejo sambil Bercanda ke Cumi.
Dan di sambut gelak canda bahagia....
Terima kasih Tuhan telah Engkau karuniakan pada ku orang tua yang teramat
sayang dan perhatian padaku... Ampuni segala kehilafannya, beri kesehatan dan
kebahagiaan yang Engkau Ridhai, amiiin..
##########
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam saja, kedua orang sahabat itu
sampai juga di kota hujan itu. "Cumi, tolong.. bawa laptop ini ke kantor
trus elu transit itu Artikel hasil interviuw tadi
datanya ke jaringan Komputer Redaksi bagian Editing. soalnya Deadline ntar sore
.. oke mungkin gue besok ke kantornya...!" kata Bejo.
"Oke Bos, ohya
ini Oleh-olehnya gak di bawa..?" tanya Cumi.
"Udah elu bawa aja
oleh-olehnya buat orang-orang rumah.!" .
"Tapi ini kebanyakan
Jo...?!".
"Kalo lebih bagikan ke tetangga elu kalo masih lebih juga
bawa aja ke kantor pasti mereka juga akan menanyakan oleh-oleh..oke gue mo
istirahat dulu...sampai jumpa besok pagi..dadah Cumiii..". Kata Bejo
sambil turun dari mobil yang ia tumpangi bareng Cumi. "
Subhanallah...
Engkau memang maha kuasa dari segalanya gak pernah sekalipun mengabaikan
Janji-janjiMu, makasih yaa Rabb..." kata Cumi membathin bersyukur mellihat
buah tangan yang lumayan banyak dan seabreg itu. "Oke gue cabut Bos...
sampai ketemu besok... Assalamu'alaikum.?".
"Wa'alikum
salam Warrahmatullahi Wabarrakatuh..". Jawab Bejo sambil
memandangi kepergian kendaraan yang di kemudikan Cumi, sahabatnya itu...
(BERSAMBUNG)
Bagaimanakah kelanjutan kisah Bejo-Cumi? Bagiamanakah hubunngan Bejo
dengan gadis Facebooknya? Simak kelanjutan cerita serunya di edisi Cerbung
selanjutnya... Ingat Hanya di Blogger, Segeraa !!!
Suasananya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi bisa juga
dikatakan semakin ramai dengan riuh rendah para peziarah yang datang
berbondong-bondong dari sejumlah daerah di Wilayah Tiga Cirebon. Belum
lagi didukung dengan bisingnya suara pedagang yang menjajakan dagangannya
seperti makanan, mainan, serta tawar menawar yang berlangsung antara pedagang
dan pembeli. Ya, selain dikunjungi para santri di Pondok Pesantren
(Ponpes) Miftahul Muta’allimin serta Ponpes di sekitar Babakan Ciwaringin Cirebon
juga dikunjungi ratusan peziarah dari selain daerah Babakan Ciwaringin. Di
antaranya seperti Majalengka, Indramayu, Kuningan, dan sejumlah daerah lainnya.
Ny Fitri (46 Tahun) misalnya, menghadiri acara haul dan maulid Nabi Muhammad
di Ponpes Ciwaringin sudah menjadi rutinitas tahunanya. Apalagi dulu
anak-anaknya pernah menjadi santri di Ponpes Miftahul Muta’allimin Babakan
Ciwaringin. “Dulu anak-anak pesantrennya di sini (di Babakan Ciwaringin), tapi
kini sudah selesai. Ya, saya sudah rutin ke sini. Ikut mendo’akan dan mencari
barokah,” terang perempuan aseli Majalengka ini, yang mengaku hanya
datang sendirian. Sementara di sampingnya, puluhan ibu-ibu duduk di atas rumput
karena tidak mendapatkan kursi dan pelindungan yang sudah penuh dengan
pengunjung lainnya.
Meski cuaca panas mulai membakar mereka (para peziarah), namun sama sekali
tak menyurutkan niat mereka untuk memberikan do’a dan mendapatkan barokah di
acara Maulid Nabi dan Haul ke-18 Al Maghfurlah KH Masduki Ali, KH Sholeh
Saddad, KH Yahya Masduki, serta para sesepuh Pondok Pesantren Babakan
Ciwaringin Cirebon. Acara yang digelar pada Sabtu (20/02), itu tidak jauh
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebelum dimulainya acara Maulid Nabi
pada malam Sabtunya, acara diawali dengan “Tahlil Akbar”. Dimana dalam acara
tersebut berisi; pembukaan, tawashul, tahlil, tauzyiah, kemudian ditutup dengan
do’a.
Haul Sebagai Ajang Silaturahim
Di Indoensia, peringatan haul selalu menjadi tradisi dan simbol relejiusitas
di kalangan masyarakat santri sejak dakwah Wali Songo. Peringatan haul (kata
"haul" dari bahasa Arab, berarti setahun) adalah peringatan kematian
seseorang, yang diadakan setahun sekali dengan tujuan utama untuk mendoakan
ahli kubur, agar semua amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT.
Biasanya, haul diadakan untuk para keluarga yang telah meninggal dunia atau
para tokoh untuk sekedar mengingat dan meneladani jasa-jasa dan amal baik
mereka.
Haul yang penting diadakan setiap setahun sekali dan tidak harus tepat pada
tanggal tertentu alias tidak sakral sebagaimana kita memperingati hari ulang
tahun. Hari dan tanggal pelaksanaan ditentukan berdasarkan pertimbangan
tertentu yang berhubungan acara-acara lain yang diselenggarakan bersamaan
dengan peringatan haul itu.
Para keluarga mengadakan acara haul pada hari dan tanggal yang telah
disepakati bersama keluarga, pada saat mereka mempunyai waktu senggang dan bisa
berkumpul bersama. Di pesantren-pesantren, haul untuk para pendiri dan tokoh-tokoh
yang berjasa terhadap perkembangan pesantren dan syi’ar Islam diadakan
bersamaan dengan acara tahunan pesantren, semisal khataman kitab akhir tahun,
pertemuan wali santri, atau dzikir akbar tahunan.
Seperti haul kali ini yang digelar oleh keluarga besar Ponpes Miftahul
Muta’allimin Babakan Ciwaringin Cirebon. KH Abdul Muhaimin As’ad LC, Pengasuh
Ponpes Miftahul Muta’allimin, juga mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya
pada segenap masyarakat yang telah hadir dalam acara haul tersebut.
“Kami sangat bersyukur, setiap tahunnya acara ini tidak pernah sepi. Bahkan
semakin ramai saja selama 18 tahun ini, meski tidak pernah ada undangan resmi.
Semoga hal ini bisa terus dipertahankan, dan mudah-mudahan anak cucunya bisa
meneruskan perjuangan KH Masduki Ali. Ini adalah suatu silaturahim yang
berfaedah dan terutama ziarah kepada kuburannya KH Masduki Ali,” papar kiai
Abdul Muhaimin dalam sambutannya pada haul ke-18 KH Masduki Ali.
Sementara sejumlah ulama menyatakan, peringatan haul tidak dilarang oleh agama,
bahkan dianjurkan. Ibnu Hajar dalam Fatâwa al-Kubrâ Juz II hlm. 18 menjelaskan,
para sahabat dan ulama tidak ada yang melarang peringatan haul sepanjang tidak
ada yang meratapi mayyit atau ahli kubur sambil menangis. Peringatan haul
sedianya diisi dengan menuturkan biorafi orang-orang yang alim dan saleh guna
mendorong orang lain untuk meniru perbuatan mereka
Peringatan haul yang diadakan secara bersama-sama menjadi penting bagi umat
Islam untuk bersilaturrahim satu sama-lain; berdoa sembari memantapkan diri
untuk menyontoh segala teladan dari para pendahulu; juga menjadi forum penting
untuk menyampaikan nasihat-nasihat keagamaan. (a5)