Jumat, 11 Mei 2012

PERJUANGAN ULAMA DAN SANTRI BABAKAN CIWARINGIN CIREBON



K.H. Hasanuddin adalah tokoh pendiri awal pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, sekitar tahun 1131 H/ 1709 M. Pendirian pesantren ini merupakan bagian proses penyebaran dan penguatan Agama Islam di Cirebon Jawa Barat. Kyai Jatira adalah gelar beliau saat memimpin aksi protes terhadap rencana pembuatan jalan lintas antara Cirebon-Sumedang-Tanah Ukur(Bandung), yang diadakan pemerintah Kolonial Belanda. Beliau mengadakan perlawanan bersama para santri dengan mencabuti patok-patok penanda jalan yg akan dibuat. Hal ini membuat Belanda dan pihak keresidenan Cirebon gusar. Belum lagi pemberontakan Tubagus Serit dan Tubagus Rangin usai, kini muncul perlawanan lain timbul. Pihak kesultanan bungkam. Dilematis. Karena perlawanan-perlawanan yang terjadi di sekitar Cirebon seperti juga yang dipimpin oleh Kyai Ardi Sela( Buntet), adalah tokoh-tokoh keluarga Keraton yang menyingkir dari keraton karena tidak senang atas kedekatan keraton dengan kompeni Belanda. Masuknya budaya asing seperti, mabuk-mabukan sambil pesta dansa, perjudian, membuat kalangan keraton yg masih kuat memegang ajaran agama Islamnya berang. Akhirnya banyak yang dari keluarga keraton keluar dari istana. Sebagian menjalani hidup sebagai orang biasa. Sebagian lagi menjadi tokoh penyebar Agama Islam meneruskan jejak leluhurnya yaitu Syekh Syarif Hidayatullah dg mendirikan padepokan atau pasantrian. Merekapun tak segan melepas gelar keningratannya(hal ini mungkin bs mnjadi alasan kenapa beberapa silsilah nasab keluarga yg hilang tidak tercatat- atau memang sengaja disembunyikan oleh ahli silsilah demi keselamatan tokoh dg generasinya). Sikap seperti itu sebagai kesiapan mereka dalam menyebarkan Ajaran Rasul yang dibina Sunan Gunung Jati yang semakin luntur akibat pengaruh budaya yang di bawa penjajah. Dengan adanya campur tangan dan tekanan Kompeni, Kebijakan keraton tidak lagt berpihak pada sisi kemanusian, mengayomi rakyat. Tapi sudah cenderung ke aspek material, memanfaatkan potensi rakyat untuk mengeruk keuntungan bagi mereka. Rakyat semakin terpuruk dengan adanya kenaikan pajak, monopoli dagang dan program tanam paksa. Pihak keraton terbagi dua antara yang membela rakyat dengan yang berpihak ke kompeni. Kelompok yang memihak rakyat banyak yang mengadakan perlawanan langsung, bergabung dengan mereka yang lebih dulu hengkang dari keraton. Sehingga perlawanan demi perlawanan tak bisa dielakan. Misalnya, Penutupan Taman Sunyaragi; sebuah taman sekaligus tempat menempa diri, bertawajuh para tokoh Keraton, yang di duga dijadikan tempat melatih ksatria untuk melawan belanda dan Pecahnya perang antara Santri dan belanda yang terjadi di Kedongdong (Perang Santri). Perjuangan lain ditempuh dengan mendirikan lembaga pendidikan pesantren; untuk mendidik kader penerus perjuangan. Salah satu tokoh yg mengambil pola tersebut yaitu Kyai Hasanuddin atau Kyai Jatira( yg dikenal juga dengan sebutan Embah Qobul). Beliau Putra dari Syekh Abdul Latif (Plumbon, Cirebon), yang dari garis ayah bersambung ke Syekh Faqih Ibrohim bin Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan, Tasikmalaya).

PONDOK PESANTREN PERTAMA BABAKAN CIWARINGIN




Pondok Pesantren Babakan Utara, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin yang didirikan oleh KH Amin Sepuh dan saat ini diasuh oleh KH Afif Zuhri Amin. Ini pesantren pertama di Babakan Ciwaringin. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Babakan Ciwaringin Cirebon. Berdiri pada tahun 1856 M, sebagai penerus Pesantren Kyai Jatira(K.H. Hasanuddin). K.H. Muhammad Amin Sepuh(1906-1972 M), adalah generasi ke-6 sejak berdirinya pesantren ini. Beliau dari pihak ayah masih keturunan dari kanjeng sunan Syekh Syarif Hidayatulloh.dan dari Ibu bersambung ke Sunan Giri.


"Don't Cry Donnaat... Kita semua sayang kamu kok...!!"



"Usahlah menangis, berikanlah aku satu senyum saja...lupakanlah semua problema yang ada berikanlah aku satu senyum saja..." Lirik lagu Dewa19 memenuhi ruang kerja Bejo di kontrakannya. Sementara Bejo terlihat santai dan asyik membaca sebuah buku tentang 'Cinta' tulisan penulis ternama Chalil Gibran. Sampai kemudian HP bututnya menyapa keras pengatkan telinga, "Halo Assalamu'alaikum, A' maafin Dede ya kalo kemarin bikin hati A'a sakit, Dede nyesel?". Kata suara di seberang sana yang sudah tidak asing lagi di telinga Bejo. "Dede kenapa mesti minta ma'af, Dede gak punya salah kok...dan seandainya punya salahpun udah A'a maafin kok. Justru A'a yang seharusnya minta ma'af sama Dede. Mungkin A'a terlalu ngoyo kali ya buru-buru bilang suka ke Dede, tapi mendinng gitu daripada di tahan-tahan terus nanti jadi penyakit hati mendingankan terus terang, jujur...masalah nyangkut nnggaknya perasaan itukan terserah yanng punya hati." "A'aaa ma'afin Dede, Dede juga sayang A'a, Dede nyesel.. banget ma'afin Dede ya Aaa?". Katanya merajuk manja. "Aku jadi bingung harus berapa kali sih aku jelasin ke kamu De... De udahlah yang sudah-sudah emang senyata diri aku begini ini adanya... ibarat orang pinter bilang sih performa A'a kaya gini ini, banyak kekurangannya bila dibandingkan dengan temen-temen Faceboker Dede yang keren-keren berpangkat lagi, pinter n' tajir pula.. ibarat sebuah kendaraan mereka-mereka itu merek ternama mahalpula harganya seperti, Baby Benz, BMW, Hyundai ataupun Mercy.. Sementara A'a apalah aku dimatamu, udah jelek, miskin, bego lagi ...Ibarat kendaraan, kendaraannya Bang Doel yang sering ngerepotin Mandra di jalanan kalo lagi di bawa buat narik penumpang. Itu Opelet... Jadul..". Kata Bejo merendah biar hatinya puas. Diseberang sana mulai terdengar ketawa kecil. "A'a Dede kangen ..!" sahutnya sendu. "Samma aku juga kangen, tapi sudahlah mo bagaiman lagi ibarat nasi sudah menjadi Bubur, sekarang kita tinggal sma-sama ngikhlasin aja ya?!  Wassalamu'alaikum...". "A'aaa...!!!" Klik Tut-tut-tut, Bejo menutup sambungan teleponnya. Makasih De buat hari-hari indah dan cinta semunya. Hheemmm, kata Bejo lagi tegar, Bro!!!.


Pagi itu cerah banget secerah wajah Bejo yang sudah semangat berangkat beraktivitas.. meski cuaca puncak Bogor pagi itu tetap seperti biasa awan selalu berkabut, tapi tidak berlaku bagi hati Bejo yang cerah dan hangat sehangat sambutan orang seisi kantor... di pagi itu. "Suuuurrpraaaiiiissseeee'...!!!" teriak seisi kantor yang kemudian mereka silih berganti menyalami Bejo, sedangkan Bejo tetap gak ngerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Selamat Jo, Besok lusa kamu... ja-di berangkat ke Koo-re-aaa...!!!" Kata pak Boss si Mata Empat itu seakan menjawab berjuta pertanyaan yang menghantui benaknya. Bejo hanya tersenyum kecil sambil mengucapkan terima kasih dan kembali kasih, jawab teman-teman sekantornya genit menggoda. "Ohya ini juga ada bonus untuk tulisan Liputanmu kemaren nyaris sempurna, sampai tau gak Jo, itu 'Si Ikbal' (Ikatan Banci Lebay) Editor kita sullit banget nyuntingnya...!! " Kata pak Bos lagi sambil memberikan amplop ke Bejo. " Bentar pak Bos tapi.. sebenanrnya yang pantas menerima bonus ini bukan saya tapi Bang Wahid. Soalnya dia hampir seharian tanpa mengenal lelah berusaha newujudkan tulisan itu. Bang Wahid sini...tolonng terima ini!!" kata Bejo sambil memberikan amplop itu. "Dia bohong pak Bos, padahal Bejo yang nulis jadi tulisannya berbobot dan perfektif ...!". "Sssst sudahlah Cumi, anggep aja ini hari baik Abang Wahid, itu Rizky dari Allah ... bisa buat beli sepeda Si Panjul anak Abang di Rumah..!" kata Bejo lagi. "Tapi kalo hanya buat beli sepedanya si Panjul masil lebih banyak nih, Jo..?!". "Kalo lebih ya gunakan aja untuk nambah-nambah ongkos persalinan Mbak Susi istri Bang Wahid yang bentar lagi akan melahirkan ... ya anggap aja uang itu pemberian hadiah dari seseorang hamba Allah untuk sahabat baiknya..." Kata Bejo ikhlas yang kemudian di sambut peluk hangat Cumi, sahabatnya."Terima kasih sahabatku, Hmmhukikkk.." kata Cumi terdengar isak tangis haru. "sudahlah malukan dilihatin ... banyak orang!" Kata Bejo berusaha menenangkan Cumi. "Temaan-temanku semuanya... sebelum gue pergi ke Negri Perantauan.... Gue mohooon banget dibukakan pintu ma'af, kalo-kalo selama jadi teman, partner kerja kalian gue banyak khilaf dan alfa, banyak nyusahin dan ngerepotin kalian semua, maafkan gue ya... dan..pasti, pas-ti... pas-ti...nanti gue akan merindukan kalian semua, pas-ti... pas-ti itu..!". Kata bejo pamitan dan tak terasa air matanya pun mulai deras terlihat mengalir di sudut matanya, haru. "Don't Cry Donnaat... Kita semua sayang kamu kok...!!" Sahut Cumi haru dan kembali memeluk erat sahabatnya seakan tak kuasa melepas kepergiannya. "Selamat jalan Sahabat, kami semua pasti merindukan keceriaan gelak tawa candamu sobat, dan... kalimat-kalimat hikmahmu yang menyejukan kalbu itu.. Selamat jalan Sahabatku!"  kata Cumi sambil melambaikan tangannya sesekali terlihat menyeka air matanya yang mulai pula membasahi wajahnya, ketika melepas kepergian sahabatnya itu, BEJO SASONGKO. 
Itulah indahnya sebuah persahabatan sejati yang bisa menghibur kita di saat dalam keadaan apapun. Tatkala duka ia menjadikannya ladang ibadah bagi kita, menjadi teman setia ketika kita sedang terjatuh..saling mengingatkan ketika lupa dan saling memberi tidak hanya ketika kita sedang berbahagia tapi saat dalam keadaan susahpun seorang sahabat sejati masih mampu memberi kedamaian hati bagi mereka yang benar-benar masih punya hati dan Cinta. Terima Kasih* Tammat.

Kamis, 10 Mei 2012

Rano Karno - Putri Sang Fajar (Music Video)

Don't Cry Donnat.... Kita Semua Sayang Kamu, Kok...!!




 Selesai Shalat Maghrib, sekeluarnya dari masjid Pondok Pesantren Selatan Bacicir. Bejo beranjak dari tempat duduknya dan menuju pintu keluar Masjid. Ia memasukan sesuatu ke dalam kotak yang persis nongkrong di samping pintu keluar Masjid yang kemudian disusul Cumi. Lalu terlihat Bejo sibuk sendiri menyiapkan beberapa  lembaran uang ratusan ribu ke dalam amplop, sementara Cumi melihatnya penuh tanda tanya. "Lah amplop itu buat apa Bos?". Tanya Cumi-cumi. 
"Buat membantu mereka saudara-saudara Muslim kita yang sedang Fii sabilillah menegakan ajaran Nabi Muhammad SAW dan mengagungkan agama Allah SWT di muka bumi ini, gimana elu mo nitip..?". kata Bejo balik nanya ke Cumi. Sedangkan Cumi kebingungan.
"Gak usah bingung kaya gitu dong...Shalat yang dilarang nitip aja pengennya nitip, tapi giliran amaliyah Shadaqah yang boleh nitip elu malah bingung...". 
"Tapi ini jatah buat makan malam ama beli oleh-oleh." Kata Cumi memelas sambil mengeluarkan beberapa uang ratusan ribu."Cumi-cumi amaliyah shodaqah  itu berapa saja yang penting hati kita ikhlas.. udah cepet mo nitip berapa..?".
"Yaa ini semuanya gue ikhlas kok, gue juga pengen deket sama Tuhan Gue... bukankah menurut tulisan elu, setiap pemberian shadaqah yang didasari rasa tulus ikhlas akan menjadikannya tolak bala bagi diri kita serta jangan pula berkhawatiran kalo-kalo uang itu akan hilang, karena Allah SWT telah berjanji akan membalasnya tidak hanya di akherat tapi di duniapun Allah akan melipat gandakannya, seperti tujuh benih yang di tanam di lahan yang subur yang kemudian tiap benihnya menghasilkan sepuluh pohon kebaikan dimana dari setiap pohonnya juga memilliki sepuluh cabang kebaikan dan berbuah lebat pula (QS. Al-Baqarah 161-163). apa yang kita keluarkan untuk sedekah.. bukan begitu pak Ustadz?" Kata Cumi panjang dan lebar menjelaskan sesuatu yang sudah ia ketahui. 
"Udah gue bilang biasa aja jangan panggil gue Ustadz, gue malu tau..!"Kata Bejo sedikit memberi kode. "Sebenarnya elu malu sama siapa sih Bos ustsdz, Ups maaf salah..!?" kata Cumi Merasa salah Ngomong. "Gue malu sama yang punya rumah ini, Baitullah..". Maksud elu sama Allah..?" tanya Cumi lagi. Bejo mengangguk tersipu malu. "Tidak hanya merasa malu sama Allah tapi juga malu sama Assatidz di lingkungan Pondok Pesantren ini..". jawab Bejo masih dengan bahasa memelas. 
" Maksud elu malu ama mereka-mereka itu, kok bisa..?" tanya Cumi lagi merasa tambah aneh. 
"Cumi-cumi, elu nyebut gue yang bukan Ustadz berani manggil gue dengan  sebutan Ustadz, sementara dengan beliau-beliau yang memang benar-benar Ustadz elu ragu memanggilnya...Padahal kalo elu harus tau, bila gue harus dibanding-bandingkan ilmu dan amal serta pengorbanannya demi tetap membuminya ajaran agama Allah SWT itu dengan Beliau-beliau, gue gak ada apa-apanya. Ibadah dan amaliyah beliau-beliau di dunia Ma'had Tarbiyyatul Islam  berpuluh-puluh tahun di Ponpes ini, insya Allah tulus tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apapun dan dari siapapun termasuk dari Pengasuh Pesantren ini sekalipun. Para Assatidz itu semata-mata hanya mengharap berkah dan Ridha dari Allah SWT saja. Sementara kita, si badan ini... meski bekerja pontang-panting, menulis dengan niatan demi dakwah sekalipun dengan sesekali 'menukil'' (Mereferensi) ayat-ayat Allah SWT juga kita masih mengharapkan bayaran, royalty, bonus dari pak Bos  Si mata empat kita. Seperti kegiatan liputan daerah tadi di Jogya.. berapa duit yang pak Bos keluarkan untuk kita. Udah begitu, kita terkadang juga masih belum puas dengan rizky yang Allah berikan. Ambil aja contoh gampangnya kita sering mendemo perusahaan kalo gaji kita gak di bayar atau telat di bayar, ataupula  ketika kita meminta gaji kita naik. Sementara beliau-beliau itu gak pernah sekalipun Cumi mendemo Pon-pesnya menuntut gaji. Padahal bertahun-tahun assatidz-assatidz  itu mengabdi demi Agama Allah." Kata Bejo sambil berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya kepada Cumi. Cumi tambah faham dan merasa kagum dengan sahabatnya yang satu ini.
"Kang Bejo ama temennya, di minta Abah Yai soan ke rumah Ajengan..!". kata salah satu Ustadz begitu ramah. 
"Oh ya-iya, terima kasih kang Zaid saya akan segera menemui Abah Yai.. Ayo Bang Wahid kita kesana.."kata Bejo sambil mengajak Cumi. Langkahnya kemudian diikuti Cumi dari belakang yang kemudian berjalan beriringan dengan Bejo.  
"Apapun yang di kasih dan disajikan Abah Yai kita gak boleh menolaknya ya..!" Bisik Bejo ke Cumi, ia cuma mengangguk kecil. "Assalamu'alaikum, Abah..!". "Wa'alikum salam Warrahmatullahi wabarrakatuh, subhanallah  Bejo, ente sehat...?" Sambut Kyai Faqih hangat."Alhamdulillah, berkat do'a Abah dan Nyai serta dengan kehendakNya pula kami berdua bisa bersilaturrahmi  kesini, ya sekedar mampir... numpang untuk shalat Maghrib.." Jawab Bejo tak henti-hentinya bersyukur.

"Ngendong  (Menginap) juga gak apa-apa, kamu kan santri Abah juga. Gimana kabar Ayah-Bunda di rumah sehat, semuanya... ?" kata Kyai sambil bertanya. 
"Alhamdullillah,  Abah semuanya sehat-sehat saja.." Jawab Bejo Takdzim sementara Cumi mengangguk-angguk aja pura-pura ngerti bahasa Jawa hinggil soalnye Bang Wahid si  'Cumi-cumi' kite ini 100% produk Betawi.
 "Kalian berdua udah makan, hayu kita makan dulu biar ngobrolnya enak..!"ajak Kyai yang khos itu. Kalo Bahasa Cerbonnya sih, "Cung wis pada mangan durung?"  Udah lazim kalimat itu terlontar dari bibir Kyai yang senantiasa basah dengan Dzikrullah  itu, diucapkannya kepada siapapun, entah itu santri-santrinya ataupun tamu-tamunya yang lebih muda dari Ajengan yang sedang soan (Berkunjung) di rumahnya. 
Akhirnya mereka bertiga asyik dengan obrolannya. Berbincang-bincang sampai waktu shalat Isyapun datang. Dengan alunan suara Muadzin Khas pesantren Selatan, Adzan pertanda telah masuk shalat Isya itu mengalun indah turut menyemarakan suasana pesantren yang terasa benar-benar terasa religius di malam itu. Ketika beranjak ke Masjid Bejo sempat menyelipkan Amplop yang tadi sudah disiapkannya di sela-sela balik tikar yang cukup lebar itu. sambil tengak-tengok takut ada orang yang melihatnya. Hal ini menambah keanehan dalam diri Cumi, saat ia hendak bertanya Bejo memberi isyarat agar Cumi tidak banyak komentar. 
Setelah menunaikan shalat Isya berjamaah, Bejopun pamitan.
"Abah Yai terima kasih, jadi ngerepotin Abah Yai sekeluarga...".  
"Ah nggak Jo, isun seneng kalo ada santri yang masih inget sama gubug ini. Apalagi kamu sudah Abah anggep anak sendiri, jangan sungkan-sungkan kalo hendak kemana saja lewat Cirebon sempatkanlah mampir di gubug reot abah ini ya Jo? jadi bener gak mo Ngendong di gubug Abah yang jelek ini...?" Kata Kyai faqih merendah. sedangkan Bejo dan Cumi hanya menanggapinya dengan bahasa jawa alakadarnya, "Boten, Abah masih wenten keperluan malih...Insya Alllah ing waktos liane mengkin pun wenten kesempatan malih Insya Allah kula mampir lan ngendong teng istanane Ajengan niki..(tidak Abah, masih ada keperlauan lagi nih, Insya Allah di lain waktu apabila masih di beri kesempatan umur panjang lagi, Insya Allah saya mampir dan menginap di rumah megah Kyai ini)". 
"Yaa sudahlah, yang sabar ya Jo, bila Allah sudah berkehendak pastilah segala apa yang kamu hajatkan akan terkabul, kun fayakuun   tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagiNya..termasuk jodohmu, Abah yakin Allah SWT masih menyeleksi calon istrimu yang terbaik dari yang terbaik untuk mendampingimu dalam kehidupanmu." Kata Kyai Khos ini seakan tau apa yang sedang di hajatkan santrinya. 
"Amiin, leres Yai maturnuwun...(Ya Kyai, terima kasih..)" jawab Bejo sambil mencium tangan halus Ajengannya itu yang mulai terlihat putih kaku, kemudian diikuti Cumi.

Kendaraan merekapun melesat dari Kompleks Ponpes Bacicir yang telah banyak mencetak ratusan bahkan ribuan orang-orang hebat di negeri ini. Dalam perjalanan pulang Cumi masih hanyut dengan kejadian barusan tadi yang benar-benar menurutnya aneh tapi nyata. "Bos boleh gak gue nanya..?" kata Cumi berusaha memberanikan diri bertanya. 
"Mo nanya apa?" sahut Bejo. 
"Tadi ketika kita mo ke rumah kyai elu sempet bilang, jangan pernah nolak pemberian apapun dari Kyia maksudnya apa?". 
"Maksudnya kita sebagai tamu juga wajib menghormati pemberian tuan rumah...gitu aja. Gak boleh malu, Abah Yai malah seneng dan banget suka kalo sesuatu yang dihidangkan kepada tamunya itu habis... masalahnya lagi Abah Yai gak suka dan gak mau nerima tamu yang kurang menghormati pemberiannya yang berarti tidak ikut mensyukuri nikmat rizky dari Allah yang dititipkanNya kepada beliau.." Jawab Bejo. 
"Terus kenapa amplop yang elu siapin itu gak elu kasihkan langsung ke Kyai saja, kok malah diselipin  di balik tikar, maksudnya apa..?".Tanya Cumi lagi masih keheranan. 
"Soalnya kalo gue kasihkan langsung ke Beliau, beliau gak mau menerima, ya karena Ajengan sudah yakin  merasa cukup dengan rizky dan ridha yang ia dapatkan dari Allah SWT aja. itu bagian dari amalan orang-orang sufi yang sudah ma'rifat (dekat) dengan Penciptanya. Bisa di bilang,'Al-Insanul Kamiluuna'' sudah tidak Ubbudun-ya lagi, segala sesuatunya ia pasrahkan. Ya shalatnya, hidupnya, ketentuan nasib hidup dan matinya hanya kepada Alllah SWT saja. Malahan beliau menganjurkan kalo ingin bersyukur berbagi rizky Allah berikan saja kepada mereka suadara-saudara kita yang nasibnya belum beruntung. kepada fakir miskin, anak-anak yatim dan orang-orang terlantar...trus yang kedua, manfaatnya juga dapat kita petik.  Bagi kita sendiri untuk menghindari riya' amal dan riya qalbi. Biar Allah SWT saja yang tahu tidak bagi manusia, itu sesungguhnya sebaik-baiknya dalam beramal.".  
"Lah tadi kita kan sepanjang obrolan gak pernah sekalipun menyindir niatan Hajat elu yang yang kepingin merantau ke luar Negeri, trus gak pernah ngomongin masalah cewek, kok pak kyai langsung tau ya?" tanya Cumi lagi masih diselimuti rasa aneh. 
"Itulah salah satu keutamaan seorang hamba yang sudah ma'rifat dengan khaliknya, terkadang di luar nalar kita bukan..?". Kata Bejo sambil tersenyum kecil kepada Cumi sahabatnya, Kini Cumi mannggut-manggut mulai paham atas kejadian barusan tadi.
"Sekarang kita kemana udah larut malem nih hampir jam 21.00 wib?".tanya Cumi lagi lupa sama keinginannya untuk dapat bersilaturrahmi ke rumah orang tua Bejo. 
"Lah kemaren hari elu minta mo kemana dulu..?". 
"Ohya gue hampir lupa, Astagfirullah al adziim ..Sampai lupa nih saking keasyikan ngedenger penjelasan elu tadi. Oke deh Umiii, Wahid dataaaang...!!" teriaknya kegirangan dan Bejo hanya senyum-senyum aja melihat sahabatnya bahagia lepas.
                                                                   

Sesampainya di kampung halaman Bejo, tepatnya di dalam gubug orang tua Bejo, setelah bincang-bincang sejenak  Bejo langsung beranjak ketempat peraduan. Sedangkan Cumi terlihat masih asyik bercengkerama dengan kedua orang tua Bejo. Menceritakan apa yang sedang dialami Bejo saat ini. Kedua orang tua Bejo terlihat  matanya berkaca-kaca mendengar cerita Cumi tentang anaknya, Bejo.
"Yaa Allah jika keinginan putra hamba itu semata-mata benar karenaMu, ketentuan dari kuasa dan keridhaanMu..siapapun gadis pilihan putra hamba, hamba terima lahir bathin sebagai menantu hamba, yaa Allah kuttitipkan pula putra hamba, tuntun ia untuk selalu dekat denganMu, ya Rabb..terima kasih untuk segala karuniaMu.. Amiiin." Do'anya meluncur dari bibir seorang Bunda yang senantiasa berharap putranya akan menjadi yang terbaik.   

Akhirnya Selesai makan siang Bejo pamitan kepada kedua oranng tuanya. "Nyak-Beh, Bejo pamitan nih, Bejo mo balik ke Bogor..... Do'ain Bejo ya agar Bejo diberi kemudahan oleh Gusti Allah di dalam setiap urusan Bejo.." . 
"Ya Jo, Mak ama Babeh kamu gak akan bosan untuk senantiasa mendo'akanmu Jo, yang penting Mak minta shalat lima waktu jangan di tinggal ya.. karena ibarat badan itu adalaah rohnya untuk dapat hidup tenang dijalannya...". Kata Ibunya Bejo berpesan. 
" Ya Mak, pesan Emak akan Bejo jaga dan takkan ragu untuk melaksanakannya.." Jawab Bejo takdzim. "Ohya Babeh ama Emak gak bisa ngasih bekal apa-apa...hanya sekedar segudang Do'a dan... ini ada sedikit buah mangga, nangka dan Jambu air, lumayanlah buat oleh-oleh, meskipun asli hasil pekarangan sendiri rasanya tidak akan kalah dengan buah-buahan dari Taman Sari Bogor sana loh, Hid..!" kata ayah Bejo sambil Bercanda ke Cumi. Dan di sambut gelak canda bahagia....
Terima kasih Tuhan telah Engkau karuniakan pada ku orang tua yang teramat sayang dan perhatian padaku... Ampuni segala kehilafannya, beri kesehatan dan kebahagiaan yang Engkau Ridhai, amiiin..
                                                                                               ##########

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam saja, kedua orang sahabat itu sampai juga di kota hujan itu. "Cumi, tolong.. bawa laptop ini ke kantor trus elu  transit itu Artikel hasil interviuw tadi datanya ke jaringan Komputer Redaksi bagian Editing. soalnya Deadline ntar sore .. oke mungkin gue besok ke kantornya...!" kata Bejo. 
"Oke Bos, ohya ini Oleh-olehnya gak di bawa..?" tanya Cumi. 
"Udah elu bawa aja oleh-olehnya buat orang-orang rumah.!" . 
"Tapi ini kebanyakan Jo...?!".
 "Kalo lebih bagikan ke tetangga elu kalo masih lebih juga bawa aja ke kantor pasti mereka juga akan menanyakan oleh-oleh..oke gue mo istirahat dulu...sampai jumpa besok pagi..dadah Cumiii..". Kata Bejo sambil turun dari mobil yang ia tumpangi bareng Cumi. "
Subhanallah...  Engkau memang maha kuasa dari segalanya gak pernah sekalipun mengabaikan Janji-janjiMu, makasih yaa Rabb..." kata Cumi membathin bersyukur mellihat buah tangan yang lumayan banyak dan seabreg itu. "Oke gue cabut Bos... sampai ketemu besok... Assalamu'alaikum.?". 
"Wa'alikum salam Warrahmatullahi Wabarrakatuh..". Jawab Bejo sambil memandangi kepergian kendaraan yang di kemudikan Cumi, sahabatnya itu...
(BERSAMBUNG)

Bagaimanakah kelanjutan kisah Bejo-Cumi?  Bagiamanakah hubunngan Bejo dengan gadis Facebooknya? Simak kelanjutan cerita serunya di edisi Cerbung selanjutnya... Ingat Hanya di Blogger, Segeraa !!!

Tradisi Maulid dan Haul ke-18 KH. Masduqi Aly Ponpes Miftahul Mutta'alimin Bacicir


Suasananya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi bisa juga dikatakan semakin ramai dengan riuh rendah para peziarah yang datang berbondong-bondong dari sejumlah daerah di Wilayah Tiga Cirebon.  Belum lagi didukung dengan bisingnya suara pedagang yang menjajakan dagangannya seperti makanan, mainan, serta tawar menawar yang berlangsung antara pedagang dan pembeli.  Ya, selain dikunjungi para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Muta’allimin serta Ponpes di sekitar Babakan Ciwaringin Cirebon juga dikunjungi ratusan peziarah dari selain daerah Babakan Ciwaringin. Di antaranya seperti Majalengka, Indramayu, Kuningan, dan sejumlah daerah lainnya.
Ny Fitri (46 Tahun) misalnya, menghadiri acara haul dan maulid Nabi Muhammad di Ponpes Ciwaringin sudah menjadi rutinitas tahunanya. Apalagi dulu anak-anaknya pernah menjadi santri di Ponpes Miftahul Muta’allimin Babakan Ciwaringin. “Dulu anak-anak pesantrennya di sini (di Babakan Ciwaringin), tapi kini sudah selesai. Ya, saya sudah rutin ke sini. Ikut mendo’akan dan mencari barokah,” terang  perempuan aseli Majalengka ini, yang mengaku hanya datang sendirian. Sementara di sampingnya, puluhan ibu-ibu duduk di atas rumput karena tidak mendapatkan kursi dan pelindungan yang sudah penuh dengan pengunjung lainnya.
Meski cuaca panas mulai membakar mereka (para peziarah), namun sama sekali tak menyurutkan niat mereka untuk memberikan do’a dan mendapatkan barokah di acara Maulid Nabi dan Haul ke-18 Al Maghfurlah KH Masduki Ali, KH Sholeh Saddad, KH Yahya Masduki, serta para sesepuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Acara yang digelar pada Sabtu (20/02), itu tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebelum dimulainya acara Maulid Nabi pada malam Sabtunya, acara diawali dengan “Tahlil Akbar”. Dimana dalam acara tersebut berisi; pembukaan, tawashul, tahlil, tauzyiah, kemudian ditutup dengan do’a.
Haul Sebagai Ajang Silaturahim
Di Indoensia, peringatan haul selalu menjadi tradisi dan simbol relejiusitas di kalangan masyarakat santri sejak dakwah Wali Songo. Peringatan haul (kata "haul" dari bahasa Arab, berarti setahun) adalah peringatan kematian seseorang, yang diadakan setahun sekali dengan tujuan utama untuk mendoakan ahli kubur, agar semua amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Biasanya, haul diadakan untuk para keluarga yang telah meninggal dunia atau para tokoh untuk sekedar mengingat dan meneladani jasa-jasa dan amal baik mereka.
Haul yang penting diadakan setiap setahun sekali dan tidak harus tepat pada tanggal tertentu alias tidak sakral sebagaimana kita memperingati hari ulang tahun. Hari dan tanggal pelaksanaan ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu yang berhubungan acara-acara lain yang diselenggarakan bersamaan dengan peringatan haul itu.
Para keluarga mengadakan acara haul pada hari dan tanggal yang telah disepakati bersama keluarga, pada saat mereka mempunyai waktu senggang dan bisa berkumpul bersama. Di pesantren-pesantren, haul untuk para pendiri dan tokoh-tokoh yang berjasa terhadap perkembangan pesantren dan syi’ar Islam diadakan bersamaan dengan acara tahunan pesantren, semisal khataman kitab akhir tahun, pertemuan wali santri, atau dzikir akbar tahunan.
Seperti haul kali ini yang digelar oleh keluarga besar Ponpes Miftahul Muta’allimin Babakan Ciwaringin Cirebon. KH Abdul Muhaimin As’ad LC, Pengasuh Ponpes Miftahul Muta’allimin, juga mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya pada segenap masyarakat yang telah hadir dalam acara haul tersebut.
“Kami sangat bersyukur, setiap tahunnya acara ini tidak pernah sepi. Bahkan semakin ramai saja selama 18 tahun ini, meski tidak pernah ada undangan resmi. Semoga hal ini bisa terus dipertahankan, dan mudah-mudahan anak cucunya bisa meneruskan perjuangan KH Masduki Ali. Ini adalah suatu silaturahim yang berfaedah dan terutama ziarah kepada kuburannya KH Masduki Ali,” papar kiai Abdul Muhaimin dalam sambutannya pada haul ke-18 KH Masduki Ali. 
Sementara sejumlah ulama menyatakan, peringatan haul tidak dilarang oleh agama, bahkan dianjurkan. Ibnu Hajar dalam Fatâwa al-Kubrâ Juz II hlm. 18 menjelaskan, para sahabat dan ulama tidak ada yang melarang peringatan haul sepanjang tidak ada yang meratapi mayyit atau ahli kubur sambil menangis. Peringatan haul sedianya diisi dengan menuturkan biorafi orang-orang yang alim dan saleh guna mendorong orang lain untuk meniru perbuatan mereka
Peringatan haul yang diadakan secara bersama-sama menjadi penting bagi umat Islam untuk bersilaturrahim satu sama-lain; berdoa sembari memantapkan diri untuk menyontoh segala teladan dari para pendahulu; juga menjadi forum penting untuk menyampaikan nasihat-nasihat keagamaan. (a5)

Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul KH. Masduqi Aly Selenggarakan Sehari Seminar Politik.



CIWARINGIN, (CNC).- Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Al-Maghfurlah KH. Masduki Ali, Pondok Pesantren Miftahul Muta’alimin mengadakan seminar sehari tentang politik. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan santri dari berbagai pondok pesantren yang ada di Babakan Ciwringin, yang bertempat di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Ali (STAIMA) (29/1).
Seminar yang mengambil tema “Pesantren dalam Pusaran Simulakra Politik di Indonesia” ini menghadirkan Wakhit Hasyim yang merupakan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan ISIF Cirebon, serta Abdul Hayyi Imam yang merupakan pengasuh pondok pesantren Gedongan.
Dalam pemaparannya Wakhit Hasyim menjelaskan pencitraan sebagai cara berkomunikasi dalam berpolotik, yang merupakan aktifitas penting dalam berpolitik. Hal ini menurutnya karena pendidikan politik membentuknya demikian. “Pendidikan politik dengan penggelembungan media informasi dengan sasaran kaum menengah perkotaan sekarang ini menjadi trend yang mengarah kepada modus mengelabuhi public,” paparnya dihadapan ratusan peserta.
Sementara itu Abdul Hayyi Imam memberikan pemaparan bahwa politik memilki bayak pengertian, tergantung siapa yang memberikan pengertian kata ini. “Petani mengatakan bahwa politik itu racun yang terbungkus dengan roti tawar berselai strobery. Sedangkan untuk kalangan pebisnis politik adalah lahan untuk meraup keuntungan. Untuk kalangan santri politik biasa diartikan cara mereka mengatasi keseretan masalah,” jelasnya.
Menurut Hasyyi, pesantren ke depan tampaknya berpeluang untuk terus bergulat dengan politik. (Ma’arif/Job)

SEJARAH PONDOK PESANTREN BABAKAN CIWARINGIN-CIREBON




Babakan Ciwaringin adalah nama sebuah perkampungan di Desa Babakan, Cirebon, Jawa Barat. Uniknya, di kampung ini terdapat 32 pondok pesantren baik putra dan putri, yang lantas dikenal sebagai Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Secara administratif, desa ini berada di wilayah Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat. Sejak berdirinya pada tahun 1715, Pesantren Babakan Ciwaringin menunjukkan perkembangan yang pesat.

''Para kiai di sini sudah mendapat restu dari para kiai tempat mereka belajar untuk mendirikan pesantren. Pesantern di sini juga seluruhnya masih ada kaitan keluarga satu sama lain,'' tandas KH Syarief Hud Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Muta'allimin, pesantren pertama di Babakan Selatan.

Walaupun mereka memiliki bidang kajian berbeda, seperti ahli fikih, ahli hadis, Alquran dan lain-lain, mereka bersatu dalam keragaman. ''Memang, mereka satu sama lain memiliki jalur keturunan yang sama,'' tambahnya.

Ini diperlihatkan dari munculnya lembaga-lembaga pendidikan di desa ini dari MI/SD, hingga perguruan tinggi. Pesantren Babakan yang letaknya sekitar 25 km dari Kota Cirebon, memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan pendidikan Islam di wilayah Cirebon.

Pola pendidikan pesantren ini masih tradisional. Sistem pengajarannya menggunakan dua metode, 
bandongan dansorogan. Pada tahun 1959, sistem pendidikan mulai mengakomodasi metode madrasah atau dikenal dengan sebutan klasikal.

Tidak lama kemudian, keluarga besar pesantren Babakan mendirikan gedung Madrasah al-Hikamus as-Salafiyah (MHS), tahun 1967 M di blok Gondang Manis. Dua tahun berikutnya, dengan kondisi bangunan yang sederhana, MHS telah menyelenggarakan pendidikan dengan sistem klasikal, tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

Pada era pertengahan tahun 1960-an inilah, terjadi pengembangan paradigma pendidikan. Sisi akomodasi inilah yang menggambarkan bahwa secara kelembagaan, pendidikan pesantren mengalami perkembangan pesat.

Integrasi ilmu (ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan umum), diwujudkan di Pesantren Babakan. Ini sekaligus menjadi pertanda bahwa para ulama yang berpegang teguh pada kaidah 
tasyaruf al-imam ala ar-raiyah manut bi al-maslahah (kebijakan para pemimpin senantiasa berbasis pada kemaslahatan universal), berharap agar pesantren dapat menjadi rujukan dalam pembangan ilmu pengetahuan.

Lebih jauh, jumlah pondok pesantren mengalami penambahan, hingga lebih dari 30 pesantren. Pun demikan, didirikan pula sejumlah lembaga pendidikan dan sosial di lingkungan pesantren.

Secara kognitif, tujuan pendidikan di Pesantren Babakan diarahkan pada upaya membentuk para santri dan pelajar yang memiliki kecerdasan dan menguasai ilmu agama dan umum serta ketrampilan tertentu. Para santri dan pelajar juga diharapkan memiliki akhlak yang terpuji dan peka terhadap fenomena-fenomena sosial. osa


Dari Perjuangan Kiai Jatirah

Dalam sejarahnya, nama Babakan diambil untuk mengenang kepeloporan seorang wali yang kerap diberi julukan Kiai Jatirah. Ia berjasa memulai dan membuka daerah yang dikenal kering dan gersang sehingga menjadi sebuah tempat pemondokan.

Tidak heran, sebutan Babakan, merupakan kata yang memiliki makna kesejarahan pembentukan awal daerah ini, yang berarti juga 
mbabak-babak (memulai atau membuka lahan).

Kehadiran Kiai Jatirah yang memiliki nama asli KH Hasanuddin, terjadi sekitar tahun 1127 H/1715 M. Bersama masyarakat di daerah itu, beliau merintis sebuah pondok pesantren yang amat sederhana, dibangun dengan infrastruktur seadanya.

Pendirian awal pesantren ini diwarnai dengan nuansa sosial-politik nasional abad 18, di mana sedang berkecamuk era kolonial Belanda. Berbagai bentuk perlawanan dari masyarakat pribumi dilakukan terhadap kaum penjajah.

Tak terkecuali Kiai Jatirah, sepak terjang dan perannya dalam memobilisasi dan mengonsolidasikan umat Muslim di daerah itu, membuat namanya semakin harum. Tidak saja sebagai seorang ulama yang kharismatik, tetapi juga pejuang yang gigih membela tanah air tumpah darahnya./taq (Sumber Republika Online)