K.H. Hasanuddin adalah tokoh pendiri
awal pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, sekitar tahun 1131 H/
1709 M. Pendirian pesantren ini merupakan bagian proses penyebaran dan
penguatan Agama Islam di Cirebon Jawa Barat. Kyai Jatira adalah gelar
beliau saat memimpin aksi protes terhadap rencana pembuatan jalan lintas
antara Cirebon-Sumedang-Tanah Ukur(Bandung), yang diadakan pemerintah
Kolonial Belanda. Beliau mengadakan perlawanan bersama para santri
dengan mencabuti patok-patok penanda jalan yg akan dibuat. Hal ini membuat
Belanda dan pihak keresidenan Cirebon gusar. Belum lagi pemberontakan
Tubagus Serit dan Tubagus Rangin usai, kini muncul perlawanan lain
timbul. Pihak kesultanan bungkam. Dilematis. Karena perlawanan-perlawanan yang
terjadi di sekitar Cirebon seperti juga yang dipimpin oleh Kyai Ardi Sela(
Buntet), adalah tokoh-tokoh keluarga Keraton yang menyingkir dari keraton
karena tidak senang atas kedekatan keraton dengan kompeni Belanda. Masuknya
budaya asing seperti, mabuk-mabukan sambil pesta dansa, perjudian, membuat kalangan
keraton yg masih kuat memegang ajaran agama Islamnya berang. Akhirnya
banyak yang dari keluarga keraton keluar dari istana. Sebagian menjalani
hidup sebagai orang biasa. Sebagian lagi menjadi tokoh penyebar Agama
Islam meneruskan jejak leluhurnya yaitu Syekh Syarif Hidayatullah dg
mendirikan padepokan atau pasantrian. Merekapun tak segan melepas gelar
keningratannya(hal ini mungkin bs mnjadi alasan kenapa beberapa silsilah
nasab keluarga yg hilang tidak tercatat- atau memang sengaja
disembunyikan oleh ahli silsilah demi keselamatan tokoh dg generasinya).
Sikap seperti itu sebagai kesiapan mereka dalam menyebarkan Ajaran Rasul yang
dibina Sunan Gunung Jati yang semakin luntur akibat pengaruh budaya yang
di bawa penjajah. Dengan adanya campur tangan dan tekanan Kompeni,
Kebijakan keraton tidak lagt berpihak pada sisi kemanusian, mengayomi rakyat.
Tapi sudah cenderung ke aspek material, memanfaatkan potensi rakyat untuk
mengeruk keuntungan bagi mereka. Rakyat semakin terpuruk dengan adanya
kenaikan pajak, monopoli dagang dan program tanam paksa. Pihak keraton
terbagi dua antara yang membela rakyat dengan yang berpihak ke kompeni. Kelompok
yang memihak rakyat banyak yang mengadakan perlawanan langsung, bergabung
dengan mereka yang lebih dulu hengkang dari keraton. Sehingga perlawanan demi
perlawanan tak bisa dielakan. Misalnya, Penutupan Taman Sunyaragi;
sebuah taman sekaligus tempat menempa diri, bertawajuh para tokoh
Keraton, yang di duga dijadikan tempat melatih ksatria untuk melawan
belanda dan Pecahnya perang antara Santri dan belanda yang terjadi di
Kedongdong (Perang Santri). Perjuangan lain ditempuh dengan mendirikan
lembaga pendidikan pesantren; untuk mendidik kader penerus perjuangan.
Salah satu tokoh yg mengambil pola tersebut yaitu Kyai Hasanuddin atau Kyai
Jatira( yg dikenal juga dengan sebutan Embah Qobul). Beliau Putra dari Syekh
Abdul Latif (Plumbon, Cirebon), yang dari garis ayah bersambung ke Syekh
Faqih Ibrohim bin Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan, Tasikmalaya).
PONDOK PESANTREN PERTAMA BABAKAN CIWARINGIN
Pondok
Pesantren Babakan Utara, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin yang
didirikan oleh KH Amin Sepuh dan saat ini diasuh oleh KH Afif Zuhri
Amin. Ini pesantren pertama di Babakan Ciwaringin. Pondok Pesantren
Roudlotut Tholibin Babakan Ciwaringin Cirebon. Berdiri pada tahun 1856 M, sebagai penerus Pesantren Kyai Jatira(K.H. Hasanuddin). K.H. Muhammad Amin
Sepuh(1906-1972 M), adalah generasi ke-6 sejak berdirinya pesantren ini.
Beliau dari pihak ayah masih keturunan dari kanjeng sunan Syekh Syarif
Hidayatulloh.dan dari Ibu bersambung ke Sunan Giri.
"Usahlah menangis, berikanlah aku satu senyum saja...lupakanlah
semua problema yang ada berikanlah aku satu senyum saja..." Lirik
lagu Dewa19 memenuhi ruang kerja Bejo di kontrakannya. Sementara Bejo terlihat
santai dan asyik membaca sebuah buku tentang 'Cinta' tulisan penulis ternama
Chalil Gibran. Sampai kemudian HP bututnya menyapa keras pengatkan telinga,
"Halo Assalamu'alaikum, A' maafin Dede ya kalo
kemarin bikin hati A'a sakit, Dede nyesel?". Kata suara di seberang sana
yang sudah tidak asing lagi di telinga Bejo. "Dede kenapa mesti minta
ma'af, Dede gak punya salah kok...dan seandainya punya salahpun udah A'a maafin
kok. Justru A'a yang seharusnya minta ma'af sama Dede. Mungkin A'a terlalu
ngoyo kali ya buru-buru bilang suka ke Dede, tapi mendinng gitu daripada di
tahan-tahan terus nanti jadi penyakit hati mendingankan terus terang,
jujur...masalah nyangkut nnggaknya perasaan itukan terserah yanng punya
hati." "A'aaa ma'afin Dede, Dede juga sayang A'a, Dede nyesel..
banget ma'afin Dede ya Aaa?". Katanya merajuk manja. "Aku jadi
bingung harus berapa kali sih aku jelasin ke kamu De... De udahlah yang sudah-sudah
emang senyata diri aku begini ini adanya... ibarat orang pinter bilang sih
performa A'a kaya gini ini, banyak kekurangannya bila dibandingkan dengan
temen-temen Faceboker Dede yang keren-keren berpangkat lagi, pinter n' tajir
pula.. ibarat sebuah kendaraan mereka-mereka itu merek ternama mahalpula
harganya seperti, Baby Benz, BMW, Hyundai ataupun Mercy.. Sementara A'a apalah
aku dimatamu, udah jelek, miskin, bego lagi ...Ibarat kendaraan, kendaraannya
Bang Doel yang sering ngerepotin Mandra di jalanan kalo lagi di bawa buat narik
penumpang. Itu Opelet... Jadul..". Kata Bejo merendah biar hatinya puas.
Diseberang sana mulai terdengar ketawa kecil. "A'a Dede kangen ..!"
sahutnya sendu. "Samma aku juga kangen, tapi sudahlah mo bagaiman lagi
ibarat nasi sudah menjadi Bubur, sekarang kita tinggal sma-sama ngikhlasin aja
ya?! Wassalamu'alaikum...".
"A'aaa...!!!" Klik Tut-tut-tut, Bejo menutup sambungan teleponnya.
Makasih De buat hari-hari indah dan cinta semunya. Hheemmm, kata Bejo lagi
tegar, Bro!!!.
Pagi itu cerah banget secerah wajah Bejo yang sudah semangat berangkat
beraktivitas.. meski cuaca puncak Bogor pagi itu tetap seperti biasa awan
selalu berkabut, tapi tidak berlaku bagi hati Bejo yang cerah dan hangat
sehangat sambutan orang seisi kantor... di pagi itu. "Suuuurrpraaaiiiissseeee'...!!!"
teriak seisi kantor yang kemudian mereka silih berganti menyalami Bejo,
sedangkan Bejo tetap gak ngerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Selamat Jo, Besok lusa kamu... ja-di berangkat ke Koo-re-aaa...!!!"
Kata pak Boss si Mata Empat itu seakan menjawab berjuta pertanyaan yang
menghantui benaknya. Bejo hanya tersenyum kecil sambil mengucapkan terima kasih
dan kembali kasih, jawab teman-teman sekantornya genit menggoda. "Ohya ini
juga ada bonus untuk tulisan Liputanmu kemaren nyaris sempurna, sampai tau gak
Jo, itu 'Si Ikbal' (Ikatan Banci Lebay) Editor kita sullit
banget nyuntingnya...!! " Kata pak Bos lagi sambil memberikan amplop ke
Bejo. " Bentar pak Bos tapi.. sebenanrnya yang pantas menerima bonus ini
bukan saya tapi Bang Wahid. Soalnya dia hampir seharian tanpa mengenal lelah
berusaha newujudkan tulisan itu. Bang Wahid sini...tolonng terima ini!!"
kata Bejo sambil memberikan amplop itu. "Dia bohong pak Bos, padahal Bejo
yang nulis jadi tulisannya berbobot dan perfektif ...!". "Sssst
sudahlah Cumi, anggep aja ini hari baik Abang Wahid, itu Rizky dari Allah ...
bisa buat beli sepeda Si Panjul anak Abang di Rumah..!" kata Bejo lagi.
"Tapi kalo hanya buat beli sepedanya si Panjul masil lebih banyak nih,
Jo..?!". "Kalo lebih ya gunakan aja untuk nambah-nambah ongkos
persalinan Mbak Susi istri Bang Wahid yang bentar lagi akan melahirkan ... ya
anggap aja uang itu pemberian hadiah dari seseorang hamba Allah untuk sahabat
baiknya..." Kata Bejo ikhlas yang kemudian di sambut peluk hangat Cumi,
sahabatnya."Terima kasih sahabatku, Hmmhukikkk.." kata Cumi terdengar
isak tangis haru. "sudahlah malukan dilihatin ... banyak orang!" Kata
Bejo berusaha menenangkan Cumi. "Temaan-temanku semuanya... sebelum gue
pergi ke Negri Perantauan.... Gue mohooon banget dibukakan pintu ma'af,
kalo-kalo selama jadi teman, partner kerja kalian gue banyak khilaf dan alfa,
banyak nyusahin dan ngerepotin kalian semua, maafkan gue ya... dan..pasti,
pas-ti... pas-ti...nanti gue akan merindukan kalian semua, pas-ti... pas-ti
itu..!". Kata bejo pamitan dan tak terasa air matanya pun mulai deras
terlihat mengalir di sudut matanya, haru.
"Don't
Cry Donnaat... Kita semua sayang kamu kok...!!"Sahut Cumi haru dan kembali
memeluk erat sahabatnya seakan tak kuasa melepas kepergiannya. "Selamat
jalan Sahabat, kami semua pasti merindukan keceriaan gelak tawa candamu sobat,
dan... kalimat-kalimat hikmahmu yang menyejukan kalbu itu.. Selamat jalan
Sahabatku!" kata Cumi sambil melambaikan tangannya sesekali terlihat
menyeka air matanya yang mulai pula membasahi wajahnya, ketika melepas
kepergian sahabatnya itu, BEJO SASONGKO.
Itulah indahnya sebuah persahabatan sejati yang bisa menghibur kita di saat
dalam keadaan apapun. Tatkala duka ia menjadikannya ladang ibadah bagi kita, menjadi
teman setia ketika kita sedang terjatuh..saling mengingatkan ketika lupa dan
saling memberi tidak hanya ketika kita sedang berbahagia tapi saat dalam
keadaan susahpun seorang sahabat sejati masih mampu memberi kedamaian hati bagi
mereka yang benar-benar masih punya hati dan Cinta. Terima Kasih* Tammat.
Selesai Shalat Maghrib, sekeluarnya dari masjid
Pondok Pesantren Selatan Bacicir. Bejo beranjak dari tempat duduknya dan menuju
pintu keluar Masjid. Ia memasukan sesuatu ke dalam kotak yang persis nongkrong
di samping pintu keluar Masjid yang kemudian disusul Cumi. Lalu terlihat Bejo
sibuk sendiri menyiapkan beberapa lembaran uang ratusan ribu ke dalam
amplop, sementara Cumi melihatnya penuh tanda tanya. "Lah amplop itu buat
apa Bos?". Tanya Cumi-cumi.
"Buat membantu mereka saudara-saudara
Muslim kita yang sedang Fii sabilillahmenegakan
ajaran Nabi Muhammad SAW dan mengagungkan agama Allah SWT di muka bumi ini,
gimana elu mo nitip..?". kata Bejo balik nanya ke Cumi. Sedangkan Cumi
kebingungan.
"Gak usah bingung kaya gitu dong...Shalat yang dilarang nitip
aja pengennya nitip, tapi giliran amaliyah Shadaqahyang
boleh nitip elu malah bingung...".
"Tapi ini jatah buat makan malam
ama beli oleh-oleh." Kata Cumi memelas sambil mengeluarkan beberapa uang
ratusan ribu."Cumi-cumi amaliyah shodaqah
itu berapa saja yang penting hati kita ikhlas.. udah cepet mo nitip
berapa..?".
"Yaa ini semuanya gue ikhlas kok, gue juga pengen deket
sama Tuhan Gue... bukankah menurut tulisan elu, setiap pemberian shadaqah yang
didasari rasa tulus ikhlas akan menjadikannya tolak bala bagi diri kita serta
jangan pula berkhawatiran kalo-kalo uang itu akan hilang, karena Allah SWT
telah berjanji akan membalasnya tidak hanya di akherat tapi di duniapun Allah
akan melipat gandakannya, seperti tujuh benih yang di tanam di lahan yang subur
yang kemudian tiap benihnya menghasilkan sepuluh pohon kebaikan dimana dari
setiap pohonnya juga memilliki sepuluh cabang kebaikan dan berbuah lebat pula (QS.
Al-Baqarah 161-163). apa yang kita keluarkan untuk sedekah.. bukan
begitu pak Ustadz?" Kata Cumi panjang dan lebar menjelaskan sesuatu yang
sudah ia ketahui.
"Udah gue bilang biasa aja jangan panggil gue Ustadz,
gue malu tau..!"Kata Bejo sedikit memberi kode. "Sebenarnya elu malu
sama siapa sih Bos ustsdz, Ups maaf salah..!?" kata Cumi Merasa salah
Ngomong. "Gue malu sama yang punya rumah ini, Baitullah..".
Maksud elu sama Allah..?" tanya Cumi lagi. Bejo mengangguk tersipu malu.
"Tidak hanya merasa malu sama Allah tapi juga malu sama Assatidz di
lingkungan Pondok Pesantren ini..". jawab Bejo masih dengan bahasa
memelas.
" Maksud elu malu ama mereka-mereka itu, kok bisa..?" tanya
Cumi lagi merasa tambah aneh.
"Cumi-cumi, elu nyebut gue yang bukan Ustadz
berani manggil gue dengan sebutan Ustadz, sementara dengan beliau-beliau
yang memang benar-benar Ustadz elu ragu memanggilnya...Padahal kalo elu harus
tau, bila gue harus dibanding-bandingkan ilmu dan amal serta pengorbanannya
demi tetap membuminya ajaran agama Allah SWT itu dengan Beliau-beliau, gue gak
ada apa-apanya. Ibadah dan amaliyah beliau-beliau di dunia Ma'had
Tarbiyyatul Islam berpuluh-puluh tahun di Ponpes ini, insya
Allah tulus tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apapun dan dari siapapun
termasuk dari Pengasuh Pesantren ini sekalipun. Para Assatidz itu semata-mata hanya
mengharap berkah dan Ridha dari Allah SWT saja. Sementara kita, si badan ini...
meski bekerja pontang-panting, menulis dengan niatan demi dakwah sekalipun
dengan sesekali 'menukil'' (Mereferensi)
ayat-ayat Allah SWT juga kita masih mengharapkan bayaran, royalty, bonus dari
pak Bos Si mata empat kita. Seperti kegiatan liputan daerah tadi di
Jogya.. berapa duit yang pak Bos keluarkan untuk kita. Udah begitu, kita
terkadang juga masih belum puas dengan rizky yang Allah berikan. Ambil aja
contoh gampangnya kita sering mendemo perusahaan kalo gaji kita gak di bayar
atau telat di bayar, ataupula ketika kita meminta gaji kita naik.
Sementara beliau-beliau itu gak pernah sekalipun Cumi mendemo Pon-pesnya
menuntut gaji. Padahal bertahun-tahun assatidz-assatidz
itu mengabdi demi Agama Allah." Kata Bejo sambil berusaha menjelaskan
sejelas-jelasnya kepada Cumi. Cumi tambah faham dan merasa kagum dengan
sahabatnya yang satu ini.
"Kang Bejo ama temennya, di minta Abah Yai soan
ke rumah Ajengan..!". kata salah satu Ustadz begitu ramah.
"Oh
ya-iya, terima kasih kang Zaid saya akan segera menemui Abah Yai.. Ayo Bang
Wahid kita kesana.."kata Bejo sambil mengajak Cumi. Langkahnya kemudian
diikuti Cumi dari belakang yang kemudian berjalan beriringan dengan Bejo.
"Apapun yang di kasih dan disajikan Abah Yai kita gak boleh menolaknya
ya..!" Bisik Bejo ke Cumi, ia cuma mengangguk kecil. "Assalamu'alaikum,
Abah..!". "Wa'alikum salam Warrahmatullahi wabarrakatuh, subhanallah
Bejo, ente sehat...?" Sambut Kyai Faqih hangat."Alhamdulillah,
berkat do'a Abah dan Nyai serta dengan kehendakNya pula kami berdua bisa bersilaturrahmi
kesini, ya sekedar mampir... numpang untuk shalat Maghrib.." Jawab Bejo
tak henti-hentinya bersyukur.
"Ngendong
(Menginap) juga gak apa-apa, kamu kan santri Abah juga. Gimana kabar Ayah-Bunda
di rumah sehat, semuanya... ?" kata Kyai sambil bertanya.
"Alhamdullillah,
Abah semuanya sehat-sehat saja.." Jawab Bejo Takdzim sementara Cumi
mengangguk-angguk aja pura-pura ngerti bahasa Jawa hinggil soalnye Bang Wahid
si 'Cumi-cumi' kite ini 100% produk Betawi.
"Kalian berdua udah makan,
hayu kita makan dulu biar ngobrolnya enak..!"ajak Kyai yang khos itu. Kalo
Bahasa Cerbonnya sih, "Cung wis pada mangan durung?"
Udah lazim kalimat itu terlontar dari bibir Kyai yang senantiasa basah dengan Dzikrullah
itu, diucapkannya kepada siapapun, entah itu santri-santrinya ataupun
tamu-tamunya yang lebih muda dari Ajengan yang sedang soan(Berkunjung) di rumahnya.
Akhirnya mereka bertiga asyik dengan obrolannya.
Berbincang-bincang sampai waktu shalat Isyapun datang. Dengan alunan suara
Muadzin Khas pesantren Selatan, Adzan pertanda telah masuk shalat Isya itu
mengalun indah turut menyemarakan suasana pesantren yang terasa benar-benar
terasa religius di malam itu. Ketika beranjak ke Masjid Bejo
sempat menyelipkan Amplop yang tadi sudah disiapkannya di sela-sela balik tikar
yang cukup lebar itu. sambil tengak-tengok takut ada orang yang melihatnya. Hal
ini menambah keanehan dalam diri Cumi, saat ia hendak bertanya Bejo memberi
isyarat agar Cumi tidak banyak komentar.
Setelah menunaikan shalat Isya berjamaah, Bejopun pamitan.
"Abah Yai
terima kasih, jadi ngerepotin Abah Yai sekeluarga...".
"Ah
nggak Jo, isun seneng kalo ada santri yang masih inget sama gubug ini. Apalagi
kamu sudah Abah anggep anak sendiri, jangan sungkan-sungkan kalo hendak kemana
saja lewat Cirebon sempatkanlah mampir di gubug reot abah ini ya Jo? jadi bener
gak mo Ngendong di gubug Abah yang jelek ini...?" Kata Kyai faqih
merendah. sedangkan Bejo dan Cumi hanya menanggapinya dengan bahasa jawa
alakadarnya, "Boten, Abah masih wenten keperluan malih...Insya
Alllah ing waktos liane mengkin pun wenten kesempatan malih Insya Allah kula
mampir lan ngendong teng istanane Ajengan niki..(tidak Abah, masih
ada keperlauan lagi nih, Insya Allah di lain waktu apabila masih di beri
kesempatan umur panjang lagi, Insya Allah saya mampir dan menginap di rumah
megah Kyai ini)".
"Yaa sudahlah, yang sabar ya Jo, bila Allah sudah
berkehendak pastilah segala apa yang kamu hajatkan akan terkabul, kun
fayakuun tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagiNya..termasuk
jodohmu, Abah yakin Allah SWT masih menyeleksi calon istrimu yang terbaik dari
yang terbaik untuk mendampingimu dalam kehidupanmu." Kata Kyai Khos ini
seakan tau apa yang sedang di hajatkan santrinya.
"Amiin, leres Yai
maturnuwun...(Ya Kyai, terima kasih..)" jawab Bejo sambil mencium
tangan halus Ajengannya itu yang mulai terlihat putih kaku, kemudian diikuti
Cumi.
Kendaraan merekapun melesat dari Kompleks Ponpes Bacicir yang telah banyak
mencetak ratusan bahkan ribuan orang-orang hebat di negeri ini. Dalam
perjalanan pulang Cumi masih hanyut dengan kejadian barusan tadi yang
benar-benar menurutnya aneh tapi nyata. "Bos boleh gak gue nanya..?"
kata Cumi berusaha memberanikan diri bertanya.
"Mo nanya apa?" sahut
Bejo.
"Tadi ketika kita mo ke rumah kyai elu sempet bilang, jangan pernah
nolak pemberian apapun dari Kyia maksudnya apa?".
"Maksudnya kita
sebagai tamu juga wajib menghormati pemberian tuan rumah...gitu aja. Gak boleh
malu, Abah Yai malah seneng dan banget suka kalo sesuatu yang dihidangkan kepada
tamunya itu habis... masalahnya lagi Abah Yai gak suka dan gak mau nerima tamu
yang kurang menghormati pemberiannya yang berarti tidak ikut mensyukuri nikmat
rizky dari Allah yang dititipkanNya kepada beliau.." Jawab Bejo.
"Terus kenapa amplop yang elu siapin itu gak elu kasihkan langsung ke Kyai
saja, kok malah diselipin di balik tikar, maksudnya apa..?".Tanya
Cumi lagi masih keheranan.
"Soalnya kalo gue kasihkan langsung ke Beliau,
beliau gak mau menerima, ya karena Ajengan sudah yakin merasa cukup
dengan rizky dan ridha yang ia dapatkan dari Allah SWT aja. itu bagian dari
amalan orang-orang sufi yang sudah ma'rifat
(dekat) dengan Penciptanya. Bisa di bilang,'Al-Insanul Kamiluuna''
sudah tidakUbbudun-yalagi, segala
sesuatunya ia pasrahkan. Ya shalatnya, hidupnya, ketentuan nasib hidup dan
matinya hanya kepada Alllah SWT saja. Malahan beliau menganjurkan kalo ingin
bersyukur berbagi rizky Allah berikan saja kepada mereka suadara-saudara kita
yang nasibnya belum beruntung. kepada fakir miskin, anak-anak yatim dan
orang-orang terlantar...trus yang kedua, manfaatnya juga dapat kita
petik. Bagi kita sendiri untuk menghindari riya' amal dan riya qalbi.
Biar Allah SWT saja yang tahu tidak bagi manusia, itu sesungguhnya
sebaik-baiknya dalam beramal.".
"Lah tadi kita kan sepanjang
obrolan gak pernah sekalipun menyindir niatan Hajat elu yang yang kepingin
merantau ke luar Negeri, trus gak pernah ngomongin masalah cewek, kok pak kyai
langsung tau ya?" tanya Cumi lagi masih diselimuti rasa aneh.
"Itulah
salah satu keutamaan seorang hamba yang sudah ma'rifat dengan khaliknya,
terkadang di luar nalar kita bukan..?". Kata Bejo sambil tersenyum kecil
kepada Cumi sahabatnya, Kini Cumi mannggut-manggut mulai paham atas kejadian
barusan tadi.
"Sekarang kita kemana udah larut malem nih hampir jam 21.00
wib?".tanya Cumi lagi lupa sama keinginannya untuk dapat bersilaturrahmi
ke rumah orang tua Bejo.
"Lah kemaren hari elu minta mo kemana
dulu..?".
"Ohya gue hampir lupa, Astagfirullah al adziim
..Sampai lupa nih saking keasyikan ngedenger penjelasan elu tadi. Oke deh
Umiii, Wahid dataaaang...!!" teriaknya kegirangan dan Bejo hanya
senyum-senyum aja melihat sahabatnya bahagia lepas.
Sesampainya di kampung halaman Bejo, tepatnya di dalam gubug orang tua
Bejo, setelah bincang-bincang sejenak Bejo langsung beranjak ketempat
peraduan. Sedangkan Cumi terlihat masih asyik bercengkerama dengan kedua orang
tua Bejo. Menceritakan apa yang sedang dialami Bejo saat ini. Kedua orang tua
Bejo terlihat matanya berkaca-kaca mendengar cerita Cumi tentang anaknya,
Bejo.
"Yaa Allah jika keinginan putra hamba itu semata-mata benar karenaMu,
ketentuan dari kuasa dan keridhaanMu..siapapun gadis pilihan putra hamba, hamba
terima lahir bathin sebagai menantu hamba, yaa Allah kuttitipkan pula putra
hamba, tuntun ia untuk selalu dekat denganMu, ya Rabb..terima kasih untuk
segala karuniaMu.. Amiiin." Do'anya meluncur dari bibir seorang Bunda yang
senantiasa berharap putranya akan menjadi yang terbaik.
Akhirnya Selesai makan siang Bejo pamitan kepada kedua oranng tuanya.
"Nyak-Beh, Bejo pamitan nih, Bejo mo balik ke Bogor..... Do'ain Bejo ya
agar Bejo diberi kemudahan oleh Gusti Allah di dalam setiap urusan Bejo.."
.
"Ya Jo, Mak ama Babeh kamu gak akan bosan untuk senantiasa mendo'akanmu
Jo, yang penting Mak minta shalat lima waktu jangan di tinggal ya.. karena
ibarat badan itu adalaah rohnya untuk dapat hidup tenang dijalannya...".
Kata Ibunya Bejo berpesan.
" Ya Mak, pesan Emak akan Bejo jaga dan takkan
ragu untuk melaksanakannya.." Jawab Bejo takdzim. "Ohya Babeh ama
Emak gak bisa ngasih bekal apa-apa...hanya sekedar segudang Do'a dan... ini ada
sedikit buah mangga, nangka dan Jambu air, lumayanlah buat oleh-oleh, meskipun
asli hasil pekarangan sendiri rasanya tidak akan kalah dengan buah-buahan dari
Taman Sari Bogor sana loh, Hid..!" kata ayah Bejo sambil Bercanda ke Cumi.
Dan di sambut gelak canda bahagia....
Terima kasih Tuhan telah Engkau karuniakan pada ku orang tua yang teramat
sayang dan perhatian padaku... Ampuni segala kehilafannya, beri kesehatan dan
kebahagiaan yang Engkau Ridhai, amiiin..
##########
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam saja, kedua orang sahabat itu
sampai juga di kota hujan itu. "Cumi, tolong.. bawa laptop ini ke kantor
trus elu transit itu Artikel hasil interviuw tadi
datanya ke jaringan Komputer Redaksi bagian Editing. soalnya Deadline ntar sore
.. oke mungkin gue besok ke kantornya...!" kata Bejo.
"Oke Bos, ohya
ini Oleh-olehnya gak di bawa..?" tanya Cumi.
"Udah elu bawa aja
oleh-olehnya buat orang-orang rumah.!" .
"Tapi ini kebanyakan
Jo...?!".
"Kalo lebih bagikan ke tetangga elu kalo masih lebih juga
bawa aja ke kantor pasti mereka juga akan menanyakan oleh-oleh..oke gue mo
istirahat dulu...sampai jumpa besok pagi..dadah Cumiii..". Kata Bejo
sambil turun dari mobil yang ia tumpangi bareng Cumi. "
Subhanallah...
Engkau memang maha kuasa dari segalanya gak pernah sekalipun mengabaikan
Janji-janjiMu, makasih yaa Rabb..." kata Cumi membathin bersyukur mellihat
buah tangan yang lumayan banyak dan seabreg itu. "Oke gue cabut Bos...
sampai ketemu besok... Assalamu'alaikum.?".
"Wa'alikum
salam Warrahmatullahi Wabarrakatuh..". Jawab Bejo sambil
memandangi kepergian kendaraan yang di kemudikan Cumi, sahabatnya itu...
(BERSAMBUNG)
Bagaimanakah kelanjutan kisah Bejo-Cumi? Bagiamanakah hubunngan Bejo
dengan gadis Facebooknya? Simak kelanjutan cerita serunya di edisi Cerbung
selanjutnya... Ingat Hanya di Blogger, Segeraa !!!
Suasananya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi bisa juga
dikatakan semakin ramai dengan riuh rendah para peziarah yang datang
berbondong-bondong dari sejumlah daerah di Wilayah Tiga Cirebon. Belum
lagi didukung dengan bisingnya suara pedagang yang menjajakan dagangannya
seperti makanan, mainan, serta tawar menawar yang berlangsung antara pedagang
dan pembeli. Ya, selain dikunjungi para santri di Pondok Pesantren
(Ponpes) Miftahul Muta’allimin serta Ponpes di sekitar Babakan Ciwaringin Cirebon
juga dikunjungi ratusan peziarah dari selain daerah Babakan Ciwaringin. Di
antaranya seperti Majalengka, Indramayu, Kuningan, dan sejumlah daerah lainnya.
Ny Fitri (46 Tahun) misalnya, menghadiri acara haul dan maulid Nabi Muhammad
di Ponpes Ciwaringin sudah menjadi rutinitas tahunanya. Apalagi dulu
anak-anaknya pernah menjadi santri di Ponpes Miftahul Muta’allimin Babakan
Ciwaringin. “Dulu anak-anak pesantrennya di sini (di Babakan Ciwaringin), tapi
kini sudah selesai. Ya, saya sudah rutin ke sini. Ikut mendo’akan dan mencari
barokah,” terang perempuan aseli Majalengka ini, yang mengaku hanya
datang sendirian. Sementara di sampingnya, puluhan ibu-ibu duduk di atas rumput
karena tidak mendapatkan kursi dan pelindungan yang sudah penuh dengan
pengunjung lainnya.
Meski cuaca panas mulai membakar mereka (para peziarah), namun sama sekali
tak menyurutkan niat mereka untuk memberikan do’a dan mendapatkan barokah di
acara Maulid Nabi dan Haul ke-18 Al Maghfurlah KH Masduki Ali, KH Sholeh
Saddad, KH Yahya Masduki, serta para sesepuh Pondok Pesantren Babakan
Ciwaringin Cirebon. Acara yang digelar pada Sabtu (20/02), itu tidak jauh
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebelum dimulainya acara Maulid Nabi
pada malam Sabtunya, acara diawali dengan “Tahlil Akbar”. Dimana dalam acara
tersebut berisi; pembukaan, tawashul, tahlil, tauzyiah, kemudian ditutup dengan
do’a.
Haul Sebagai Ajang Silaturahim
Di Indoensia, peringatan haul selalu menjadi tradisi dan simbol relejiusitas
di kalangan masyarakat santri sejak dakwah Wali Songo. Peringatan haul (kata
"haul" dari bahasa Arab, berarti setahun) adalah peringatan kematian
seseorang, yang diadakan setahun sekali dengan tujuan utama untuk mendoakan
ahli kubur, agar semua amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT.
Biasanya, haul diadakan untuk para keluarga yang telah meninggal dunia atau
para tokoh untuk sekedar mengingat dan meneladani jasa-jasa dan amal baik
mereka.
Haul yang penting diadakan setiap setahun sekali dan tidak harus tepat pada
tanggal tertentu alias tidak sakral sebagaimana kita memperingati hari ulang
tahun. Hari dan tanggal pelaksanaan ditentukan berdasarkan pertimbangan
tertentu yang berhubungan acara-acara lain yang diselenggarakan bersamaan
dengan peringatan haul itu.
Para keluarga mengadakan acara haul pada hari dan tanggal yang telah
disepakati bersama keluarga, pada saat mereka mempunyai waktu senggang dan bisa
berkumpul bersama. Di pesantren-pesantren, haul untuk para pendiri dan tokoh-tokoh
yang berjasa terhadap perkembangan pesantren dan syi’ar Islam diadakan
bersamaan dengan acara tahunan pesantren, semisal khataman kitab akhir tahun,
pertemuan wali santri, atau dzikir akbar tahunan.
Seperti haul kali ini yang digelar oleh keluarga besar Ponpes Miftahul
Muta’allimin Babakan Ciwaringin Cirebon. KH Abdul Muhaimin As’ad LC, Pengasuh
Ponpes Miftahul Muta’allimin, juga mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya
pada segenap masyarakat yang telah hadir dalam acara haul tersebut.
“Kami sangat bersyukur, setiap tahunnya acara ini tidak pernah sepi. Bahkan
semakin ramai saja selama 18 tahun ini, meski tidak pernah ada undangan resmi.
Semoga hal ini bisa terus dipertahankan, dan mudah-mudahan anak cucunya bisa
meneruskan perjuangan KH Masduki Ali. Ini adalah suatu silaturahim yang
berfaedah dan terutama ziarah kepada kuburannya KH Masduki Ali,” papar kiai
Abdul Muhaimin dalam sambutannya pada haul ke-18 KH Masduki Ali.
Sementara sejumlah ulama menyatakan, peringatan haul tidak dilarang oleh agama,
bahkan dianjurkan. Ibnu Hajar dalam Fatâwa al-Kubrâ Juz II hlm. 18 menjelaskan,
para sahabat dan ulama tidak ada yang melarang peringatan haul sepanjang tidak
ada yang meratapi mayyit atau ahli kubur sambil menangis. Peringatan haul
sedianya diisi dengan menuturkan biorafi orang-orang yang alim dan saleh guna
mendorong orang lain untuk meniru perbuatan mereka
Peringatan haul yang diadakan secara bersama-sama menjadi penting bagi umat
Islam untuk bersilaturrahim satu sama-lain; berdoa sembari memantapkan diri
untuk menyontoh segala teladan dari para pendahulu; juga menjadi forum penting
untuk menyampaikan nasihat-nasihat keagamaan. (a5)
CIWARINGIN, (CNC).-
Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Al-Maghfurlah KH.
Masduki Ali, Pondok Pesantren Miftahul Muta’alimin mengadakan seminar sehari
tentang politik. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan santri dari berbagai pondok
pesantren yang ada di Babakan Ciwringin, yang bertempat di Aula Sekolah Tinggi
Agama Islam Ma’had Ali (STAIMA) (29/1).
Seminar yang mengambil tema
“Pesantren dalam Pusaran Simulakra Politik di Indonesia” ini menghadirkan
Wakhit Hasyim yang merupakan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan ISIF
Cirebon, serta Abdul Hayyi Imam yang merupakan pengasuh pondok pesantren
Gedongan.
Dalam pemaparannya Wakhit
Hasyim menjelaskan pencitraan sebagai cara berkomunikasi dalam berpolotik, yang
merupakan aktifitas penting dalam berpolitik. Hal ini menurutnya karena
pendidikan politik membentuknya demikian. “Pendidikan politik dengan
penggelembungan media informasi dengan sasaran kaum menengah perkotaan sekarang
ini menjadi trend yang mengarah kepada modus mengelabuhi public,” paparnya
dihadapan ratusan peserta.
Sementara itu Abdul Hayyi
Imam memberikan pemaparan bahwa politik memilki bayak pengertian, tergantung
siapa yang memberikan pengertian kata ini. “Petani mengatakan bahwa politik itu
racun yang terbungkus dengan roti tawar berselai strobery. Sedangkan untuk
kalangan pebisnis politik adalah lahan untuk meraup keuntungan. Untuk kalangan
santri politik biasa diartikan cara mereka mengatasi keseretan masalah,”
jelasnya.
Menurut Hasyyi, pesantren ke
depan tampaknya berpeluang untuk terus bergulat dengan politik. (Ma’arif/Job)
Babakan Ciwaringin adalah nama sebuah perkampungan di Desa
Babakan, Cirebon, Jawa Barat. Uniknya, di kampung ini terdapat 32 pondok
pesantren baik putra dan putri, yang lantas dikenal sebagai Pondok Pesantren
Babakan Ciwaringin.
Secara administratif, desa ini berada di wilayah Kecamatan Ciwaringin Kabupaten
Cirebon Provinsi Jawa Barat. Sejak berdirinya pada tahun 1715, Pesantren
Babakan Ciwaringin menunjukkan perkembangan yang pesat.
''Para kiai di sini sudah mendapat restu dari para kiai tempat mereka belajar
untuk mendirikan pesantren. Pesantern di sini juga seluruhnya masih ada kaitan
keluarga satu sama lain,'' tandas KH Syarief Hud Yahya, pengasuh Pondok
Pesantren Miftahul Muta'allimin, pesantren pertama di Babakan Selatan.
Walaupun mereka memiliki bidang kajian berbeda, seperti ahli fikih, ahli hadis,
Alquran dan lain-lain, mereka bersatu dalam keragaman. ''Memang, mereka satu
sama lain memiliki jalur keturunan yang sama,'' tambahnya.
Ini diperlihatkan dari munculnya lembaga-lembaga pendidikan di desa ini dari
MI/SD, hingga perguruan tinggi. Pesantren Babakan yang letaknya sekitar 25 km
dari Kota Cirebon, memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan pendidikan
Islam di wilayah Cirebon.
Pola pendidikan pesantren ini masih tradisional. Sistem pengajarannya
menggunakan dua metode, bandongan dansorogan. Pada tahun 1959, sistem pendidikan mulai mengakomodasi metode
madrasah atau dikenal dengan sebutan klasikal.
Tidak lama kemudian, keluarga besar pesantren Babakan mendirikan gedung
Madrasah al-Hikamus as-Salafiyah (MHS), tahun 1967 M di blok Gondang Manis. Dua
tahun berikutnya, dengan kondisi bangunan yang sederhana, MHS telah
menyelenggarakan pendidikan dengan sistem klasikal, tingkat Ibtidaiyah,
Tsanawiyah dan Aliyah.
Pada era pertengahan tahun 1960-an inilah, terjadi pengembangan paradigma
pendidikan. Sisi akomodasi inilah yang menggambarkan bahwa secara kelembagaan,
pendidikan pesantren mengalami perkembangan pesat.
Integrasi ilmu (ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan umum), diwujudkan di
Pesantren Babakan. Ini sekaligus menjadi pertanda bahwa para ulama yang
berpegang teguh pada kaidah tasyaruf
al-imam ala ar-raiyah manut bi al-maslahah (kebijakan para pemimpin
senantiasa berbasis pada kemaslahatan universal), berharap agar pesantren dapat
menjadi rujukan dalam pembangan ilmu pengetahuan.
Lebih jauh, jumlah pondok pesantren mengalami penambahan, hingga lebih dari 30
pesantren. Pun demikan, didirikan pula sejumlah lembaga pendidikan dan sosial
di lingkungan pesantren.
Secara kognitif, tujuan pendidikan di Pesantren Babakan diarahkan pada upaya
membentuk para santri dan pelajar yang memiliki kecerdasan dan menguasai ilmu
agama dan umum serta ketrampilan tertentu. Para santri dan pelajar juga
diharapkan memiliki akhlak yang terpuji dan peka terhadap fenomena-fenomena
sosial. osa
Dari Perjuangan Kiai Jatirah
Dalam sejarahnya, nama Babakan diambil untuk mengenang kepeloporan seorang wali
yang kerap diberi julukan Kiai Jatirah. Ia berjasa memulai dan membuka daerah
yang dikenal kering dan gersang sehingga menjadi sebuah tempat
pemondokan.
Tidak heran, sebutan Babakan, merupakan kata yang memiliki makna kesejarahan
pembentukan awal daerah ini, yang berarti juga mbabak-babak (memulai atau membuka lahan).
Kehadiran Kiai Jatirah yang memiliki nama asli KH Hasanuddin, terjadi sekitar
tahun 1127 H/1715 M. Bersama masyarakat di daerah itu, beliau merintis sebuah
pondok pesantren yang amat sederhana, dibangun dengan infrastruktur
seadanya.
Pendirian awal pesantren ini diwarnai dengan nuansa sosial-politik nasional
abad 18, di mana sedang berkecamuk era kolonial Belanda. Berbagai bentuk
perlawanan dari masyarakat pribumi dilakukan terhadap kaum penjajah.
Tak terkecuali Kiai Jatirah, sepak terjang dan perannya dalam memobilisasi dan
mengonsolidasikan umat Muslim di daerah itu, membuat namanya semakin harum.
Tidak saja sebagai seorang ulama yang kharismatik, tetapi juga pejuang yang
gigih membela tanah air tumpah darahnya./taq (Sumber Republika Online)